Saur “butet” Marlina Manurung: mengabdi di jalan sunyi

Neng Butet! Bolehlah perempuan Batak bernama Saur Marlina Manurung itu, disapa demikian? Maklumlah, beberapa tahun ia sempat menetap di tatar Sunda, sebagai mahasiswa Universitas Padjadjaran, Jatinangor, sebelum memutuskan hidup di belantara hutan di kawasan Taman Nasional Bukit Dua Belas, Propinsi Jambi, sekitar 225 km dari Kota Jambi ke arah barat.

Sebelumnya, orang tak begitu mengenal sosoknya. Namun, pemunculannya dalam sebuah iklan surat kabar nasional di layar kaca, orang kerap panasaran dibuatnya. Bagaimana tidak, di usianya yang terbilang muda, lajang satu ini justru memilih hidup di kawasan pedalaman yang dihuni Suku Anak Dalam–orang banyak menyebutnya Suku Kubu. Tapi mereka lebih senang disebut Orang Rimba–Jambi, yang jauh dari hingar-bingar kehidupan kota.

“Kubu artinya bau, jorok, dan bodoh. Makanya, mereka sering marah jika disebut Suku Kubu. Mereka lebih senang bila dipanggil dengan sebuatan Orang Rimba,” kata Butet menjelaskan arti Kubu, saat ditemui di Hotel Mulia, Jakarta, belum lama ini.

Pilihan yang sulit dimengerti dengan cara mengabdi di “jalan sunyi”. Tapi itulah hebatnya Butet. Ia memilih tugas mulia: Mengajar baca-tulis kepada bocah-bocah Suku Anak Dalam. Harapannya cuma satu. “Saya ingin meyakinkan mereka, bahwa bagaimanapun pendidikan dapat memproteksi mereka dari ketertindasan dunia luar,” katanya.

Cerita pilu masyarakat Orang Rimba cukuplah membuat Butet trenyuh. Mereka sering dijadikan objek penipuan orang-orang luar, terang Butet. Dengan sejumlah iming-iming, lahan mereka ditebang. “Tapi, akhirnya mereka justru tidak mendapatkan apa-apa,” ungkapnya.

Kondisi itulah yang justru menarik Butet untuk mengajari anak-anak Suku Anak Dalam membaca dan menulis. Terang Butet, ia mulai masuk kawasan hutan tersebut sejak tahun 1999. Sejak itulah mulai banyak dari mereka yang kini sudah bisa membaca, menulis dan menghitung. “Anak-anak di sana ada yang sudah bisa baca akta perjanjian, melakukan proses jual-beli dan menghitung,” terang Butet.

Inilah yang membuat Butet bahagia. Padahal, usaha untuk bisa meyakini kehadirannya di masyarakat Suku Anak Dalam, tidaklah mudah. Berkali-kali, kehadiran Butet ditolak, bahkan tidak segan-segan mereka mengusirnya. “Penolakan itu barangkali karena mereka punya pengalaman buruk,” katanya.

Alasan tersebut bisa dipahami Butet. Tapi, darah Batak yang mengalir dari tubuhnya, tak segera membuatnya menyerah. Secara sembunyi-sembunyi ia mengajar sejumlah bocah. Satu-satunya orang yang percaya akan kehadirannya adalah seorang bocah bernama Gentar. “Dia orang yang pertama kali percaya kepada saya. Dia juga yang meyakinkan anak-anak lainnya,” ungkapnya.

Lama kelamaan, usaha untuk meyakinkan masyarakat Suku Anak dalam akhirnya berbuah. “Saya sempat disumpah. Saya juga sempat yakinkan mereka bahwa kehadiran saya di sana bukan untuk menyebarkan agama baru atau merusak hutan mereka,” ungkap anak sulung dari empat bersaudara itu.

Kesenangannya kepada kegiatan pencinta alam, justru yang membuat perempuan Batak kelahiran Jakarta 21 Februari 1972 jatuh cinta kepada belantara hutan kawasan Taman Nasional Bukit Dua Belas, Propinsi Jambi. Lima tahun lalu, ia mulai masuk-keluar hutan Bukit Dua Belas. “Keberadaan saya di Jambi, sebenarnya lebih karena kecelakaan saja. Tadinya saya ingin menetap di belantara hutan Irian,” terang Butet, tanpa merinci lebih jauh.

Nasib juga lah yang menggiringnya dikenal masyarakat luas. Dedikasi Butet dalam mencerdaskan anak-anak pedalaman mulai tampak jejaknya, ketika beberapa wartawan dan wartawati menemuinya di lokasi pedalaman Propinsi Jambi. “Waktu itu, dengan menggunakan motor trail, saya sempat menjadi penunjuk jalan mereka. Setelah sampai lokasi yang dituju, mereka baru sadar kalau saya ini perempuan. Kita ngobrol banyak. Ya, akhirnya oleh salah satu wartawati dari Kompas saya sempat dihubungi untuk dijadikan bintang iklan surat kabarnya,” katanya.

Satu tahun mengajar anak-anak Suku Anak Dalam, usaha Butet mendapat perhatian. Ia dianugerahi penghargaan Man and Biosfer yang diberikan LIPI bekerja sama dengan UNESCO pada tahun 2000.

Empat tahun kemudian, sejarah kembali terulang

Senin (8/3) pekan ini, anak dari pasangan Victor Manurung dengan Anar Tiur Samosir ini kembali dianugerahi penghargaan 1st antv Women of The Year Award untuk kategori bidang pendidikan. Menyisihkan Dra. Hj. Nurlaila Nuzulul Qur’any dan Ria Winanti, yang juga menjadi nomine kuat di kategori tersebut.

Butet dianggap perempuan yang memiliki konsep pendidikan alternatif. Ia juga dianggap telah memberi manfaat bagi masyarakat di pedalaman. “Sebenarnya, saya risau menerima penghargaan semacam ini karena takut memunculkan banyak ekspektasi,” tuturnya.

Disinggung soal pola pendidikan semacam apa yang pas untuk anak Indonesia, dengan enteng Butet memberi jawaban singkat dan tak berbelit-belit. “Yang tepat guna,” katanya usai menerima penghargaan malam itu.

Apa yang dimaksud dengan tepat guna, tak lain adalah pendidikan yang bisa diterapkan dan disukai oleh anak-anak. “Anak-anak bisa memahami dan memanfaatkan ilmu yang telah didapatnya,” katanya.

Pola pendidikan yang dicoba diterapkan Butet kepada anak-anak di pedalaman Suku Anak Dalam, tentulah sangat berbeda dengan guru kebanyakan di tanah air. Dengarkan saja penuturannya. Ungkap Butet, pola belajar yang dikembangkan lebih mengikuti mood murid. “Kalau jam 12 malam mereka masih mood, ya kita terus saja jalan. Pokoknya, jam belajar tidak terbatas. Asalkan, tidak melupakan unsur bermain. Proses belajar-mengajar sekarang kebanyakan justru meninggalkan unsur bermain,” kata bu guru Butet, yang terinspirasi film petualangan Indiana Jones itu.

Selain menjadi guru, sewaktu-waktu Butet juga bisa menjadi murid. Banyak pelajaran yang ternyata bisa diperoleh dari mereka, seperti bagaimana mengenali jejak sampai mengobati secara tradisional. Hal-hal itulah yang tidak pernah didapatnya ketika masih sekolah maupun di perguruan tinggi.

Disinggung soal cita-citanya ke depan, Butet pun enggan muluk-muluk. Dengan enteng ia berharap bisa jadi konsultan pendidikan untuk anak-anak di suku pedalaman lainnya. “Saya ingin jadi konsultan bagi mereka yang peduli kepada pendidikan anak-anak di pedalaman,” katanya mantap.

Sumber : (EH) Kompas Cyber Media

Pendidikan Teknologi Informasi untuk Suku-suku Pedalaman India

Apa yang Anda pikirkan jika suatu hari bertemu dengan anak muda dari suku pedalaman yang lincah mengoperasikan komputer serta menguasai teknologi informasi? Bisa jadi Anda akan terkaget-kaget bercampur salut dengan anak muda tersebut.

Perangkat KomputerAdalah ITITI (Information Technology for the Tibes of India) yang mendirikan sebuah lembaga pendidikan bagi masyarakat suku di Dehra Dun, Uttaranchak, India. Keterbelakangan masyarakatnya karena posisi geografis yang terisolisasi (wilayah itu di kelilingi pegunungan) membuat wilayah tersebut terasing dan sulit terjangkau peradaban modern. Jangankan bicara tentang komputer, kereta api yang menjadi alat transportasi utama masyarakat India saja masih banyak yang belum pernah melihatnya.

Lembaga pendidikan ini didirikan dengan tujuan agar masyarakat suku didaerah tersebut bisa mendapatkan pendidikan yang layak, seperti halnya masyarakat lain di negaranya. Lembaga tersebut mengajarkan pengetahuan kepada kaum muda, dengan alasan generasi muda yang kelak meneruskan keahlian ke generasi selanjutnya. ITITI lebih memfokuskan diri pada kemampuan teknologi informasi (TI), pelatihan wirausaha, serta peningkatkan respons kepekaan terhadap pembangunan sosial.

Para anak muda dari suku pedalaman ini ditempatkan dalam sebuah asrama. Hidup mereka di asrama tidak dipungut ongkos sepeser pun, begitu juga dengan biaya belajar mereka.

Budaya pendidikan tradisional bangsa India secara tidak langsung juga turut andil dalam mendukung pola pendidikan asrama. Sistem kuno yang terkenal dengan julukan Gurukula, konon mengajarkan belajar di dalam rumah. Filosofinya rumah dianggap sebagai guru. Pola asrama dikembangkan meniru sistem tersebut dan menjadi ciri khas lembaga pendidikan yang dijalankan itu.

Pemimpin Institut Dr Bharat Bhasker, mengungkapkan bahwa tujuan dari pendidikan ini adalah membekali masyarakat suku-suku pedalaman agar mampu mengikuti perubahan zaman. Selain itu mereka juga diharapkan menjadi manusia yang siap dalam menghadapi dunia kerja, membangun karakteristik diri, dan menjadi manusia yang disiplin.

Pola pendidikannya dimulai dari kelas 6 hingga 12 dengan lama belajar 3 tahun. Kurikulum Teknologi informasi (TI) dilalui dengan 5 tingkat yang juga disesuaikan dengan kurikulum regional CBSE (Central Board of Secondary Education), sebuah sistem standar kurikulum pendidikan ekstra formal di India. Di dalam kurikulum TI tersebut terdapat berbagai macam mata pelajaran seperti pengembangan web, manajemen data, program, membuat jaringan, dasar-dasar pengoperasian TI, multimedia, dan perangkat keras.

Aturan untuk bersaing satu sama lain membuat sistem pendidikannya cenderung progresif. Institut memberikan kebebasan Budaya pendidikan tradisional bangsa India secara tidak langsung juga turut andil dalam mendukung pola pendidikan asrama. Sistem kuno yang terkenal dengan julukan Gurukula, konon mengajarkan belajar di dalam rumah. Filosofinya rumah dianggap sebagai guru. Pola asrama dikembangkan meniru sistem tersebut dan menjadi ciri khas lembaga pendidikan yang dijalankan itu.

Pemimpin Institut Dr Bharat Bhasker, mengungkapkan bahwa tujuan dari pendidikan ini adalah membekali masyarakat suku-suku pedalaman agar mampu mengikuti perubahan zaman. Selain itu mereka juga diharapkan menjadi manusia yang siap dalam menghadapi dunia kerja, membangun karakteristik diri, dan menjadi manusia yang disiplin.

Pola pendidikannya dimulai dari kelas 6 hingga 12 dengan lama belajar 3 tahun. Kurikulum Teknologi informasi (TI) dilalui dengan 5 tingkat yang juga disesuaikan dengan kurikulum regional CBSE (Central Board of Secondary Education), sebuah sistem standar kurikulum pendidikan ekstra formal di India. Di dalam kurikulum TI tersebut terdapat berbagai macam mata pelajaran seperti pengembangan web, manajemen data, program, membuat jaringan, dasar-dasar pengoperasian TI, multimedia, dan perangkat keras.

Aturan untuk bersaing satu sama lain membuat sistem pendidikannya cenderung progresif. Institut memberikan kebebasan siswa untuk mengembangkan diri di dalam sekolah. Bukan hanya itu saja, agar siswa tergugah untuk selalu belajar, para pengajar sering memotivasi mereka dengan slogan-slogan yang memberi semangat bagi para siswa, seperti “pelajari dari belajarmu” atau “belajar, maka kamu akan mendapatkan upah”. Dengan slogan-slogan tersebut siswa diajak agar giat belajar sampai akhinya dihadapkan pada dua pilihan, menjadi wirausaha atau kembali meneruskan pendidikan yang lebih tinggi.

Banyak suku pedalaman yang belajar di ITITI, seperti suku Dimapur, Kohima, Gangtok, Kachar, dan Haflong. Walaupun bahasa dan budaya mereka berbeda, namun ada satu mimpi yang mengikat mereka, yakni kuch karke dikhana hai (kita punya sesuatu yang bisa kita pamerkan kepada dunia).

Oleh Zein Muffarih Muktaf

http://kombinasi.net

Forum Pelayanan Penjara dan KAJ Bantu Perpustakaan Lapas

Selasa, 14 Juli 2009 | 21:00 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Penyediaan perpustakaan merupakan bagian dari upaya pemberdayaan warga Lembaga Pemasyarakatan (Lapas), terutama untuk membekali para warga Lapas dengan berbagai pengetahuan sebelum akhirnya kembali ke masyarakat.

Demikian diungkapkan Kepala Bidang Keamanan dan Ketertiban Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas I Cipinang, Destri Syam dalam acara peresemian Perpustakaan Rohani, Selasa (14/7).

Perpustakaan tersebut merupakan sumbangan dari masyarakat yang tergabung dalam Forum Pelayanan Penjara dan Keuskupan Agung Jakarta. Selain buku rohani, tersedia pula buku umum di perpustakaan berkoleksi 1.200 buku tersebut.

Menurut Destri, pendirian sejumlah perpustakaan di lingkungan LP sangat didukung karena memberikan kesempatan kepada penghuni Lapas untuk mengembangkan wawasannya. Sebelumnya, terdapat sumbangan perpustakaan umum dengan koleksi buku umum dan ada juga perpustakaan di masjid lapas.

“Mereka mempunyai kesempatan yang sama untuk belajar. Berbagai pengetahuan praktis dari buku memulai usaha, beternak, budi daya, misalnya, dapat bermanfaat ketika mereka kembali masyarakat dan siap berkarya,” ujarnya.

Kala Suara Anak Jalanan Teredam ‘Live Music’

Kompas.com Rabu, 31 Desember 2008 | 23:38 WIB

JAKARTA, RABU – Bagi kalangan kelas menengah ke atas, menikmati hiburan live music menjelang pergantian tahun merupakan hiburan yang menyenangkan. Namun bagi anak-anak jalanan yang biasa berprofesi sebagai pengamen, hingar bingar live music justru mengurangi pendapatan mereka hari ini.

Ketika ditemui di kawasan Tebet Utara Dalam, enam orang anak jalanan yang biasa beroperasi di sejumlah kafe yang memang berjejer di ruas jalan Tebet Utara Dalam sedang bercengkerama di trotoar di pertigaan ujung jalan ini. Hingar bingar live music dari Comic Cafe, Burger and Grill dan sejumlah kafe lainnya memaksa mereka harus diam.

“Nggak boleh ngamen. Dimarahin ama penjaganya,” ujar Harupin (9).

Teman-temannya, Doni (6), Iwan (10) dan Riswan (11) sibuk mencoba terompet tahun baru yang baru saja mereka peroleh dari penjual terompet di tempat itu dengan cuma-cuma.

Sementara itu, teman lainnya Oki (11) dan Doni (10) menyusul kemudian. Doni yang berumur 10 tahun mengaku sering mengamen di daerah ini dengan intensitas tak tentu. Sekali-kali bisa saja pindah ke daerah lain atau justru di kereta rel listrik (KRL) ekonomi. Seharinya, sekitar Rp 10.000-20.000 bisa mereka kantongi. Jika ngamen bertiga, tentu saja uangnya harus dibagi tiga.

Menjelang 2009, tak ada satupun dari mereka yang mengungkapkan harapan khusus yang mereka inginkan. Bahkan, Doni yang ayah ibunya tidak akur hingga pisah rumah hanya terdiam ketika ditanya mengenai rencananya di tahun depan.

“Apa ya? Nggak tau,” ujarnya lalu diam. Nggak ingin sekolah? “Oh iya, mau,” tandas Doni meralat jawabannya.

“Nggak mungkin,” seru Harupin yang memang agak usil.

Meski gelap malam menyamarkan senyum simpul Doni, senyumnya melanjutkan tekad yang baru saja diucapkannya. Asal saja, kesempatan pun segera diberikan kepada anak-anak tidak mampu seiring dengan peningkatan anggaran pendidikan menjadi 20 persen oleh pemerintah.


LIN

70.000 Penduduk Sulbar Buta Aksara

Kompas.com Selasa, 30 Desember 2008 | 19:41 WIB

MAMUJU, SELASA- Sekitar 70.000 dari sekitar satu juta orang jumlah penduduk Provinsi Sulawesi Barat masih menyandang status buta aksara. Kepala Dinas Pendidikan Nasional Provinsi Sulbar Jamil Barambangi di Mamuju, Selasa (30/12), mengatakan, dari 70.000 penduduk Sulbar yang buta aksara tersebut,  sekitar 57 persen di antaranya adalah kaum perempuan.

Ia mengatakan, tingginya angka buta aksara di wilayah ini akibat banyaknya anak usia sekolah tidak mengecap pendidikan serta terbatasnya kesempatan masyarakat untuk belajar membaca.

Menurut dia, banyaknya masyarakat tidak mengecap pendidikan karena masih rendahnya kesadaran atau minat untuk menyekolahkan anaknya, khususnya kalangan masyarakat yang berada di daerah terpencil atau terisolasi.

“Selain itu, juga akibat keterbatasan infrastrukrur pendidikan di daerah ini seperti sarana dan prasarana belajar mengajar yang belum memadai,” ujarnya.  Oleh karena itu, pihaknya telah memprogramkan tahun 2009 untuk mengembangkan taman baca masyarakat (TBM) pada lokasi yang stratebis untuk menjangkau dan menarik minat baca masyarakat.

“TBM tersebut ditempatkan pada lokasi strategis seperti terminal agar seluruh lapisan masyarakat terutama nelayan dan petani yang selama ini kurang berminat membaca, dapat menjangkau tempat bacaan itu,” ujarnya.

Jamil menambahkan, khusus untuk wilayah pesisir, pihaknya memprogramkan “kapal pintar” untuk memenuhi kebutuhan membaca msyarakat di wilayah pesisir dan kepulauan di gugusan Pulau Balak Balakang yang terletak di perairan Selat Makassar.

Ia mengatakan, Dinas Pendidikan Nasional Provinsi Sultra terus berupaya membenahi pembangunan infrastruktur pendidikan dengan memanfaatkan anggaran APBN 2009 sekitar Rp 230 miliar dan APBD  2009 sekitar Rp 22 miliar.
MSH
Sumber : Ant

Anak Jadi Korban Terbesar di Sumut

Kompas.Com Jumat, 26 Desember 2008 | 19:55 WIB

MEDAN, JUMAT – Sepanjang tahun 2008, anak dibawah umur tercatat sebagai korban kasus penganiayaan dan kekerasan seksual terbesar di Sumatera Utara. Data Yayasan Pusaka Indonesia menyebutkan, sepanjang tahun ini terdapat 59 kasus penganiayaan terhadap anak. Sedangkan dari total 239 kasus kekerasan terhadap anak di bawah umur, 53 kasus di antaranya merupakan kekerasan seksual.

Menurut Ketua Badan Pengurus Yayasan Pusaka Indonesia, Edy Ikhsan, jenis kekerasan yang dialami anak di bawah umur sangat bervariasi. Dari mulai kasus perkosaan, sodomi hingga incest. “Pelaku umumnya orang yang memiliki hubungan sangat dengat dengan korban. Ini yang kemudian menjadi semacam fenomena gunung es, karena angka pasti berapa banyak kekerasan, terutama kekerasan seksual terhadap anak tak pernah terungkap,” ujar Edy di Medan, Jumat (26/12).

Dia mengungkapkan, kekerasan seksual terhadap anak yang bermula dari kasus-kasus p erdagangan manusia (trafficking) juga cukup menonjol di Sumut. Latar belakang ekonomi korban selalu menjadi penyebab terbesar munculnya kasus-kasus trafficking pada anak perempuan di bawah umur.

“Sekarang ini mengapa anak terperangkap dalam prostitusi lewat jerat trafficking, lebih banyak disebabkan karena faktor ekonomi. Mereka berasal dari keluarga tidak mampu yang tak bisa menyediakan dana pendidikan atau sekolah bagi anaknya. Di sisi lain ada tawaran menggiurkan, bagi anak untuk mendapatkan income,” katanya.

Namun pengaruh lain seperti media yang menjadi soft culture penerus budaya konsumerisme ke anak perempuan, ikut juga menjadi sebab terjadinya kasus-kasus trafficking. “Harus disadari, soft culture dari media berupa iklan dan sebagainya telah membius anak-anak perempuan sekarang ini berperilaku konsumtif. Mereka terjebak dalam dunia prostitusi karena perilaku konsumtif ini,” katanya.

Menurut Edy, masyarakat juga sering kali tidak memiliki kesadaran bahwa modus pelaku trafficking sebenarnya mengancam di depan mata. Karena ketidaktahuan masyarakat ini, pelaku traffick ing bisa leluasa menjaring korbannya di berbagai pelosok. “Sering kali masyarakat tidak tahu modus-modus pelaku trafficking. Sementara pemerintah yang sebenarnya berperan dalam mensosialisasikan bahaya perdagangan manusia ini, lebih sering ceramah dan seminar di kota. Padahal pelakunya sudah bergentayangan ke pelosok,” katanya.

Data dari Yayasan Pusaka Indonesia juga menyebut Kota Medan menempati urutan pertama banyaknya kasus kekerasan terhadap anak. Dari total 239 kasus kekerasan, 110 kasus di antaranya terjadi di Medan. Pematang Siantar menempati urutan kedua dengan 26 kasus.

20 Siswi SMP Jajakan Diri

Kompas.com Sabtu, 27 Desember 2008 | 04:40 WIB

JAKARTA, Sebanyak 20 siswi sebuah SMP negeri di Tambora, Jakarta Barat,
kerap mangkal menunggu pria hidung belang di lokasi prostitusi liar. Para siswi ini nekat terjun ke dunia malam agar memiliki uang dan handphone (HP) model terakhir.

Adanya siswi SMP negeri di Tambora yang menjajakan diri di lokasi prostitusi ini dipergoki oleh guru sekolah bersangkutan. Beberapa waktu lalu, sang guru mengikuti razia wanita pekerja seks komersial
(PSK) di Sunter, Jakarta Utara. Razia ini dilakukan aparat Tramtib Pemprov DKI.

Sang guru terkejut ketika salah satu wanita malam yang terjaring razia adalah anak didiknya yang duduk di kelas dua. Si murid mengaku dirinya telah enam bulan menjajakan diri. Dia juga mengatakan ada 19
rekannya yang juga terjun ke dunia malam dan mangkal di lokasi prostitusi liar Kalijodo di perbatasan Jakarta Barat dan Jakarta Utara atau tak jauh dari sekolah mereka.

Sekjen Komnas Perlindungan Anak Arist Merdeka Sirait menduga para siswi tersebut korban sindikat perdagangan manusia. Mereka dibujuk sedemikian rupa agar mau terjun ke dunia malam. Arist mendesak polisi mengusut tuntas kasus ini.

Punya uang

Berdasarkan pengakuan siswi yang terjaring razia PSK di Sunter, pihak sekolah memanggil 19 siswi yang mangkal di Kalijodo. Para siswi mengaku nekat terjun ke dunia malam karena silau oleh seorang rekan yang nyambi menjadi PSK sehingga memiliki banyak uang dan barang-barang berharga mahal.

Gayung bersambut. Si siswi merangkap PSK tersebut bersedia menyalurkan kawan-kawannya. Dia menghubungi pengelola sebuah warung sekaligus tempat penginapan sederhana di Kalijodo. Tak lama kemudian, hampir tiap malam, ke-19 siswi SMP tersebut mangkal di Kalijodo.

Informasi yang dihimpun Warta Kota menyebutkan, sejauh ini pihak sekolah belum memberikan sanksi terhadap ke-20 siswi itu. Namun, saat pembagian rapor, akhir pekan lalu, orangtua ke-20 siswi tersebut diminta menjaga putrinya lebih ketat. Imbauan serupa juga disampaikan kepada para orangtua murid lainnya.

In, orangtua murid SMP tersebut, mengatakan awalnya dia tidak percaya ada siswi sekolah tersebut yang menjajakan diri di lokasi prostitusi. Setelah bertanya ke sana kemari, In percaya bahwa ada
siswi sekolah tersebut yang menjual diri. “Kami diminta untuk menjaga putri kami agar tidak terjerumus dalam dunia hitam. Sebab sudah ada 20 pelajar yang terjerumus,” katanya, Jumat (26/12).

Geger

Kabar tentang 20 siswi yang nyambi jadi wanita penghibur ini menggegerkan masyarakat yang tinggal di dekat SMP negeri tersebut. AG, warga Jembatanbesi, Tambora, mengatakan bahwa kabar tentang 20 siswi SMP yang menjajakan diri di lokasi pelacuran bukanlah kabar bohong. “Saya tahu dari guru yang ikut dalam razia itu,” katanya, kemarin. AG menambahkan, “Menurut guru tersebut, razia dilakukan di Sunter, Jakarta Utara. Salah satu PSK yang tertangkap adalah siswi sekolah ini.”

Kaum ibu yang tinggal di Jembatanbesi juga membicarakan ulah para siswi tersebut. “Saya tahu ini dari para orangtua murid sekolah itu,” kata Ny Yuli, warga setempat. Yuli mengaku terperanjat ketika
mendengar untuk pertama kali ada siswi SMP negeri di Tambora yang nekat menjadi PSK. “Mereka itu kan masih anak-anak, tapi mengapa bisa sampai demikian,” tuturnya.

Hingga kemarin Warta Kota belum mendapat penjelasan dari pihak sekolah bersangkutan. Kemarin siang, ketika mendatangi sekolah tersebut, Warta Kota tak menjumpai kepala sekolah maupun guru.
“Sekolah libur sampai 4 Januari. Sekolah mulai lagi tanggal 5 Januari,” kata Rika, orangtua murid sekolah itu.

Sementara itu, Kanit Perlindungan Perempuan dan Anak Polrestro Jakarta Barat AKP Sri Lestari mengaku belum mengetahui adanya kasus siswi sebuah SMP di Tambora yang menjajakan diri di Kalijodo maupun Sunter. “Saya prihatin dengan kejadian ini. Saya akan mengecek kebenarannya,” katanya, kemarin.

Kepala Dinas Pendidikan Dasar DKI Sukesti Martono juga mengaku belum mengetahui kasus tersebut. “Saya akan pastikan dulu kebenarannya. Kalau bisa jangan disebarluaskan dulu,” katanya,
kemarin.

Peran orangtua

Sekjen Komnas Perlindungan Anak Arist Merdeka Sirait menduga para siswi sebuah SMP negeri di Tambora tersebut merupakan korban sindikat perdagangan manusia. “Saya menduga ini ada sindikatnya, mereka terus merekrut remaja hingga jumlahnya banyak seperti itu,” ujarnya ketika
dihubungi semalam.

Arist juga mengatakan, dari sisi kejiwaan, remaja sangat labil dan mudah dipengaruhi, termasuk dipengaruhi untuk berbuat di luar norma kesusilaan. Kaum remaja semakin mudah terpengaruh jika diiming-imingi hadiah berupa handphone dan uang. “Mereka itu belum mengerti benar apa
yang mereka lakukan, sehingga keperawanan tidak lebih mahal dari sebuah handphone. Terjadinya situasi ini juga pengaruh konsumerisme di kalangan remaja,” kata Arist.

Menurut Arist, usia remaja bukanlah usia yang harus terbebani dengan problem mendapatkan uang untuk hidup. Namun akibat konsumerisme maupun hedonisme, banyak remaja yang kini termotivasi mendapatkan uang dan barang yang lebih baik dari teman-temannya. Di sisi lain, sang orangtua tidak mau ataupun tidak mampu memenuhi tuntutan gaya hidup anaknya.

Menghadapi anak usia remaja, kata Arist, orangtua harus memberikan perhatian lebih dan mendampingi anaknya dalam menghadapi konsumerisme. Para orangtua juga harus curiga ketika sang anak berubah gaya hidupnya, misalnya pulang malam atau punya banyak uang tanpa asal yang jelas.”Mungkin juga si anak ganti-ganti HP dan tidak lagi meminta uang jajan. Ini harus mendapat perhatian orangtua. Sesibuk apa pun orangtua, harus ada komunikasi dengan anak,” kata Arist. (tos/sab)