PENDIDIKAN LAYANAN KHUSUS

Saur “butet” Marlina Manurung: mengabdi di jalan sunyi

Juli 15, 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

Neng Butet! Bolehlah perempuan Batak bernama Saur Marlina Manurung itu, disapa demikian? Maklumlah, beberapa tahun ia sempat menetap di tatar Sunda, sebagai mahasiswa Universitas Padjadjaran, Jatinangor, sebelum memutuskan hidup di belantara hutan di kawasan Taman Nasional Bukit Dua Belas, Propinsi Jambi, sekitar 225 km dari Kota Jambi ke arah barat.

Sebelumnya, orang tak begitu mengenal sosoknya. Namun, pemunculannya dalam sebuah iklan surat kabar nasional di layar kaca, orang kerap panasaran dibuatnya. Bagaimana tidak, di usianya yang terbilang muda, lajang satu ini justru memilih hidup di kawasan pedalaman yang dihuni Suku Anak Dalam–orang banyak menyebutnya Suku Kubu. Tapi mereka lebih senang disebut Orang Rimba–Jambi, yang jauh dari hingar-bingar kehidupan kota.

“Kubu artinya bau, jorok, dan bodoh. Makanya, mereka sering marah jika disebut Suku Kubu. Mereka lebih senang bila dipanggil dengan sebuatan Orang Rimba,” kata Butet menjelaskan arti Kubu, saat ditemui di Hotel Mulia, Jakarta, belum lama ini.

Pilihan yang sulit dimengerti dengan cara mengabdi di “jalan sunyi”. Tapi itulah hebatnya Butet. Ia memilih tugas mulia: Mengajar baca-tulis kepada bocah-bocah Suku Anak Dalam. Harapannya cuma satu. “Saya ingin meyakinkan mereka, bahwa bagaimanapun pendidikan dapat memproteksi mereka dari ketertindasan dunia luar,” katanya.

Cerita pilu masyarakat Orang Rimba cukuplah membuat Butet trenyuh. Mereka sering dijadikan objek penipuan orang-orang luar, terang Butet. Dengan sejumlah iming-iming, lahan mereka ditebang. “Tapi, akhirnya mereka justru tidak mendapatkan apa-apa,” ungkapnya.

Kondisi itulah yang justru menarik Butet untuk mengajari anak-anak Suku Anak Dalam membaca dan menulis. Terang Butet, ia mulai masuk kawasan hutan tersebut sejak tahun 1999. Sejak itulah mulai banyak dari mereka yang kini sudah bisa membaca, menulis dan menghitung. “Anak-anak di sana ada yang sudah bisa baca akta perjanjian, melakukan proses jual-beli dan menghitung,” terang Butet.

Inilah yang membuat Butet bahagia. Padahal, usaha untuk bisa meyakini kehadirannya di masyarakat Suku Anak Dalam, tidaklah mudah. Berkali-kali, kehadiran Butet ditolak, bahkan tidak segan-segan mereka mengusirnya. “Penolakan itu barangkali karena mereka punya pengalaman buruk,” katanya.

Alasan tersebut bisa dipahami Butet. Tapi, darah Batak yang mengalir dari tubuhnya, tak segera membuatnya menyerah. Secara sembunyi-sembunyi ia mengajar sejumlah bocah. Satu-satunya orang yang percaya akan kehadirannya adalah seorang bocah bernama Gentar. “Dia orang yang pertama kali percaya kepada saya. Dia juga yang meyakinkan anak-anak lainnya,” ungkapnya.

Lama kelamaan, usaha untuk meyakinkan masyarakat Suku Anak dalam akhirnya berbuah. “Saya sempat disumpah. Saya juga sempat yakinkan mereka bahwa kehadiran saya di sana bukan untuk menyebarkan agama baru atau merusak hutan mereka,” ungkap anak sulung dari empat bersaudara itu.

Kesenangannya kepada kegiatan pencinta alam, justru yang membuat perempuan Batak kelahiran Jakarta 21 Februari 1972 jatuh cinta kepada belantara hutan kawasan Taman Nasional Bukit Dua Belas, Propinsi Jambi. Lima tahun lalu, ia mulai masuk-keluar hutan Bukit Dua Belas. “Keberadaan saya di Jambi, sebenarnya lebih karena kecelakaan saja. Tadinya saya ingin menetap di belantara hutan Irian,” terang Butet, tanpa merinci lebih jauh.

Nasib juga lah yang menggiringnya dikenal masyarakat luas. Dedikasi Butet dalam mencerdaskan anak-anak pedalaman mulai tampak jejaknya, ketika beberapa wartawan dan wartawati menemuinya di lokasi pedalaman Propinsi Jambi. “Waktu itu, dengan menggunakan motor trail, saya sempat menjadi penunjuk jalan mereka. Setelah sampai lokasi yang dituju, mereka baru sadar kalau saya ini perempuan. Kita ngobrol banyak. Ya, akhirnya oleh salah satu wartawati dari Kompas saya sempat dihubungi untuk dijadikan bintang iklan surat kabarnya,” katanya.

Satu tahun mengajar anak-anak Suku Anak Dalam, usaha Butet mendapat perhatian. Ia dianugerahi penghargaan Man and Biosfer yang diberikan LIPI bekerja sama dengan UNESCO pada tahun 2000.

Empat tahun kemudian, sejarah kembali terulang

Senin (8/3) pekan ini, anak dari pasangan Victor Manurung dengan Anar Tiur Samosir ini kembali dianugerahi penghargaan 1st antv Women of The Year Award untuk kategori bidang pendidikan. Menyisihkan Dra. Hj. Nurlaila Nuzulul Qur’any dan Ria Winanti, yang juga menjadi nomine kuat di kategori tersebut.

Butet dianggap perempuan yang memiliki konsep pendidikan alternatif. Ia juga dianggap telah memberi manfaat bagi masyarakat di pedalaman. “Sebenarnya, saya risau menerima penghargaan semacam ini karena takut memunculkan banyak ekspektasi,” tuturnya.

Disinggung soal pola pendidikan semacam apa yang pas untuk anak Indonesia, dengan enteng Butet memberi jawaban singkat dan tak berbelit-belit. “Yang tepat guna,” katanya usai menerima penghargaan malam itu.

Apa yang dimaksud dengan tepat guna, tak lain adalah pendidikan yang bisa diterapkan dan disukai oleh anak-anak. “Anak-anak bisa memahami dan memanfaatkan ilmu yang telah didapatnya,” katanya.

Pola pendidikan yang dicoba diterapkan Butet kepada anak-anak di pedalaman Suku Anak Dalam, tentulah sangat berbeda dengan guru kebanyakan di tanah air. Dengarkan saja penuturannya. Ungkap Butet, pola belajar yang dikembangkan lebih mengikuti mood murid. “Kalau jam 12 malam mereka masih mood, ya kita terus saja jalan. Pokoknya, jam belajar tidak terbatas. Asalkan, tidak melupakan unsur bermain. Proses belajar-mengajar sekarang kebanyakan justru meninggalkan unsur bermain,” kata bu guru Butet, yang terinspirasi film petualangan Indiana Jones itu.

Selain menjadi guru, sewaktu-waktu Butet juga bisa menjadi murid. Banyak pelajaran yang ternyata bisa diperoleh dari mereka, seperti bagaimana mengenali jejak sampai mengobati secara tradisional. Hal-hal itulah yang tidak pernah didapatnya ketika masih sekolah maupun di perguruan tinggi.

Disinggung soal cita-citanya ke depan, Butet pun enggan muluk-muluk. Dengan enteng ia berharap bisa jadi konsultan pendidikan untuk anak-anak di suku pedalaman lainnya. “Saya ingin jadi konsultan bagi mereka yang peduli kepada pendidikan anak-anak di pedalaman,” katanya mantap.

Sumber : (EH) Kompas Cyber Media

→ Tinggalkan KomentarKategori: Pejuang PLK

Pendidikan Teknologi Informasi untuk Suku-suku Pedalaman India

Juli 15, 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

Apa yang Anda pikirkan jika suatu hari bertemu dengan anak muda dari suku pedalaman yang lincah mengoperasikan komputer serta menguasai teknologi informasi? Bisa jadi Anda akan terkaget-kaget bercampur salut dengan anak muda tersebut.

Perangkat KomputerAdalah ITITI (Information Technology for the Tibes of India) yang mendirikan sebuah lembaga pendidikan bagi masyarakat suku di Dehra Dun, Uttaranchak, India. Keterbelakangan masyarakatnya karena posisi geografis yang terisolisasi (wilayah itu di kelilingi pegunungan) membuat wilayah tersebut terasing dan sulit terjangkau peradaban modern. Jangankan bicara tentang komputer, kereta api yang menjadi alat transportasi utama masyarakat India saja masih banyak yang belum pernah melihatnya.

Lembaga pendidikan ini didirikan dengan tujuan agar masyarakat suku didaerah tersebut bisa mendapatkan pendidikan yang layak, seperti halnya masyarakat lain di negaranya. Lembaga tersebut mengajarkan pengetahuan kepada kaum muda, dengan alasan generasi muda yang kelak meneruskan keahlian ke generasi selanjutnya. ITITI lebih memfokuskan diri pada kemampuan teknologi informasi (TI), pelatihan wirausaha, serta peningkatkan respons kepekaan terhadap pembangunan sosial.

Para anak muda dari suku pedalaman ini ditempatkan dalam sebuah asrama. Hidup mereka di asrama tidak dipungut ongkos sepeser pun, begitu juga dengan biaya belajar mereka.

Budaya pendidikan tradisional bangsa India secara tidak langsung juga turut andil dalam mendukung pola pendidikan asrama. Sistem kuno yang terkenal dengan julukan Gurukula, konon mengajarkan belajar di dalam rumah. Filosofinya rumah dianggap sebagai guru. Pola asrama dikembangkan meniru sistem tersebut dan menjadi ciri khas lembaga pendidikan yang dijalankan itu.

Pemimpin Institut Dr Bharat Bhasker, mengungkapkan bahwa tujuan dari pendidikan ini adalah membekali masyarakat suku-suku pedalaman agar mampu mengikuti perubahan zaman. Selain itu mereka juga diharapkan menjadi manusia yang siap dalam menghadapi dunia kerja, membangun karakteristik diri, dan menjadi manusia yang disiplin.

Pola pendidikannya dimulai dari kelas 6 hingga 12 dengan lama belajar 3 tahun. Kurikulum Teknologi informasi (TI) dilalui dengan 5 tingkat yang juga disesuaikan dengan kurikulum regional CBSE (Central Board of Secondary Education), sebuah sistem standar kurikulum pendidikan ekstra formal di India. Di dalam kurikulum TI tersebut terdapat berbagai macam mata pelajaran seperti pengembangan web, manajemen data, program, membuat jaringan, dasar-dasar pengoperasian TI, multimedia, dan perangkat keras.

Aturan untuk bersaing satu sama lain membuat sistem pendidikannya cenderung progresif. Institut memberikan kebebasan Budaya pendidikan tradisional bangsa India secara tidak langsung juga turut andil dalam mendukung pola pendidikan asrama. Sistem kuno yang terkenal dengan julukan Gurukula, konon mengajarkan belajar di dalam rumah. Filosofinya rumah dianggap sebagai guru. Pola asrama dikembangkan meniru sistem tersebut dan menjadi ciri khas lembaga pendidikan yang dijalankan itu.

Pemimpin Institut Dr Bharat Bhasker, mengungkapkan bahwa tujuan dari pendidikan ini adalah membekali masyarakat suku-suku pedalaman agar mampu mengikuti perubahan zaman. Selain itu mereka juga diharapkan menjadi manusia yang siap dalam menghadapi dunia kerja, membangun karakteristik diri, dan menjadi manusia yang disiplin.

Pola pendidikannya dimulai dari kelas 6 hingga 12 dengan lama belajar 3 tahun. Kurikulum Teknologi informasi (TI) dilalui dengan 5 tingkat yang juga disesuaikan dengan kurikulum regional CBSE (Central Board of Secondary Education), sebuah sistem standar kurikulum pendidikan ekstra formal di India. Di dalam kurikulum TI tersebut terdapat berbagai macam mata pelajaran seperti pengembangan web, manajemen data, program, membuat jaringan, dasar-dasar pengoperasian TI, multimedia, dan perangkat keras.

Aturan untuk bersaing satu sama lain membuat sistem pendidikannya cenderung progresif. Institut memberikan kebebasan siswa untuk mengembangkan diri di dalam sekolah. Bukan hanya itu saja, agar siswa tergugah untuk selalu belajar, para pengajar sering memotivasi mereka dengan slogan-slogan yang memberi semangat bagi para siswa, seperti “pelajari dari belajarmu” atau “belajar, maka kamu akan mendapatkan upah”. Dengan slogan-slogan tersebut siswa diajak agar giat belajar sampai akhinya dihadapkan pada dua pilihan, menjadi wirausaha atau kembali meneruskan pendidikan yang lebih tinggi.

Banyak suku pedalaman yang belajar di ITITI, seperti suku Dimapur, Kohima, Gangtok, Kachar, dan Haflong. Walaupun bahasa dan budaya mereka berbeda, namun ada satu mimpi yang mengikat mereka, yakni kuch karke dikhana hai (kita punya sesuatu yang bisa kita pamerkan kepada dunia).

Oleh Zein Muffarih Muktaf

http://kombinasi.net

→ Tinggalkan KomentarKategori: Pendidikan Anak Suku Pedalaman