PENDIDIKAN LAYANAN KHUSUS

Forum Pelayanan Penjara dan KAJ Bantu Perpustakaan Lapas

Juli 15, 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

Selasa, 14 Juli 2009 | 21:00 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Penyediaan perpustakaan merupakan bagian dari upaya pemberdayaan warga Lembaga Pemasyarakatan (Lapas), terutama untuk membekali para warga Lapas dengan berbagai pengetahuan sebelum akhirnya kembali ke masyarakat.

Demikian diungkapkan Kepala Bidang Keamanan dan Ketertiban Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas I Cipinang, Destri Syam dalam acara peresemian Perpustakaan Rohani, Selasa (14/7).

Perpustakaan tersebut merupakan sumbangan dari masyarakat yang tergabung dalam Forum Pelayanan Penjara dan Keuskupan Agung Jakarta. Selain buku rohani, tersedia pula buku umum di perpustakaan berkoleksi 1.200 buku tersebut.

Menurut Destri, pendirian sejumlah perpustakaan di lingkungan LP sangat didukung karena memberikan kesempatan kepada penghuni Lapas untuk mengembangkan wawasannya. Sebelumnya, terdapat sumbangan perpustakaan umum dengan koleksi buku umum dan ada juga perpustakaan di masjid lapas.

“Mereka mempunyai kesempatan yang sama untuk belajar. Berbagai pengetahuan praktis dari buku memulai usaha, beternak, budi daya, misalnya, dapat bermanfaat ketika mereka kembali masyarakat dan siap berkarya,” ujarnya.

→ Tinggalkan KomentarKategori: Pendidikan Anak Lapas

Kala Suara Anak Jalanan Teredam ‘Live Music’

Januari 1, 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

Kompas.com Rabu, 31 Desember 2008 | 23:38 WIB

JAKARTA, RABU – Bagi kalangan kelas menengah ke atas, menikmati hiburan live music menjelang pergantian tahun merupakan hiburan yang menyenangkan. Namun bagi anak-anak jalanan yang biasa berprofesi sebagai pengamen, hingar bingar live music justru mengurangi pendapatan mereka hari ini.

Ketika ditemui di kawasan Tebet Utara Dalam, enam orang anak jalanan yang biasa beroperasi di sejumlah kafe yang memang berjejer di ruas jalan Tebet Utara Dalam sedang bercengkerama di trotoar di pertigaan ujung jalan ini. Hingar bingar live music dari Comic Cafe, Burger and Grill dan sejumlah kafe lainnya memaksa mereka harus diam.

“Nggak boleh ngamen. Dimarahin ama penjaganya,” ujar Harupin (9).

Teman-temannya, Doni (6), Iwan (10) dan Riswan (11) sibuk mencoba terompet tahun baru yang baru saja mereka peroleh dari penjual terompet di tempat itu dengan cuma-cuma.

Sementara itu, teman lainnya Oki (11) dan Doni (10) menyusul kemudian. Doni yang berumur 10 tahun mengaku sering mengamen di daerah ini dengan intensitas tak tentu. Sekali-kali bisa saja pindah ke daerah lain atau justru di kereta rel listrik (KRL) ekonomi. Seharinya, sekitar Rp 10.000-20.000 bisa mereka kantongi. Jika ngamen bertiga, tentu saja uangnya harus dibagi tiga.

Menjelang 2009, tak ada satupun dari mereka yang mengungkapkan harapan khusus yang mereka inginkan. Bahkan, Doni yang ayah ibunya tidak akur hingga pisah rumah hanya terdiam ketika ditanya mengenai rencananya di tahun depan.

“Apa ya? Nggak tau,” ujarnya lalu diam. Nggak ingin sekolah? “Oh iya, mau,” tandas Doni meralat jawabannya.

“Nggak mungkin,” seru Harupin yang memang agak usil.

Meski gelap malam menyamarkan senyum simpul Doni, senyumnya melanjutkan tekad yang baru saja diucapkannya. Asal saja, kesempatan pun segera diberikan kepada anak-anak tidak mampu seiring dengan peningkatan anggaran pendidikan menjadi 20 persen oleh pemerintah.


LIN

→ Tinggalkan KomentarKategori: Pendidikan Anak Jalanan