Pemenuhan Hak Pendidikan para Pekerja Anak

 

Pemenuhan Hak Pendidikan para Pekerja Anak

 

Pekerja anak adalah sebuah istilah untuk mempekerjakan anak kecil dengan gaji yang kecil, dan dapat memiliki konotasi pengeksploitasian anak kecil atas tenaga mereka. Anak yang berusia di bawah 18 tahun di Indonesia, dilarang di pekerjakan (Undang-Undang Ketenagakerjaan RI No.13 Tahun 2003). Namun dalam undang-undang tersebut, anak-anak boleh dipekerjakan dengan syarat mendapat izin orang tua dan bekerja maksimal 3 jam sehari.Berdasarkan hasil Survey Angkatan Kerja Nasional Tahun 2003, terdapat 566,526 ribu pekerja anak di seluruh Indonesia, dan pekerja anak di pedesaan dinyatakan lebih banyak dibandingkan di perkotaan. Salah satu wilayah pedesaan di Indonesia yaitu di desa Teluk Wetan dan Bugo, Kecamatan Welahan, kabupaten Jepara, Jawa Tengah, setidaknya terdapat 2.187 anak dibawah umur yang bekerja di berbagai sektor informal (Harian Seputar Indonesia, 6 April 2007). Dan berdasarkan data dari International Labour Organization, International Programme on the Elimination of Child Labour (ILO-IPEC) pada Juni 2007, lebih dari 132 juta anak laki-laki dan perempuan di dunia, berusia 5-14 tahun yang bekerja di bidang pertanian, jasa dan industri rumah tangga.

Anak-anak yang bekerja rata-rata berpendidikan rendah (SD atau SMP). Dari data ILO-IPEC tahun 2005, terdapat 52,47% pekerja di Indonesia yang berusia antara 15-19 tahun (termasuk pekerja anak), tidak pernah bersekolah atau tidak lulus sekolah dasar. Dan 47,46% yang berpendidikan SMP dan SMA (lulus dan tidak lulus). Anak-anak berusia dibawah 15 tahun kemudian paling banyak dipilih sebagai pekerja, dengan alasan upah yang lebih murah, biaya produksi lebih sedikit, usia mereka relatif muda, sehingga sangat mudah diatur, dan tidak banyak menuntut seperti pekerja dewasa. Pekerja anak ini tidak hanya berasal dari daerah setempat tapi juga dari luar daerah. Anak-anak pedesaan selain bekerja di desanya, terutama di sektor pertanian, juga banyak yang datang ke kota-kota. Mereka sengaja keluar dari daerahnya untuk mencari penghasilan tambahan untuk untuk kebutuhan sehari-hari.

Seperti Asep, seorang anak berusia 13 tahun, di sebuah kampung di pegunungan Halimun, Sukabumi, Jawa Barat. Asep sempat bekerja sebagai buruh pabrik di kota Sukabumi selama enam bulan, dan meninggalkan sekolahnya begitu saja. Asep akhirnya kembali ke kampung halamannya ketika dirasakan betatapun miskin keluarganya, namun lebih enak berkumpul dengan keluarga, susah dan senang ditanggung bersama, daripada bekerja. Asep juga mengakui merasa menyesal telah mengabaikan sekolahnya. Sekarang Asep pun sudah bersekolah kembali. Kisah Asep tersebut, merupakan salah satu contoh dari hidup pekerja anak yang ada di Indonesia. Akibat mereka harus bekerja, seringkali mereka pun tidak terpenuhi pendidikannya. Sesuai dengan pasal 31 UUD 1945 bahwa setiap warganegara berhak mendapat pendidikan. Namun dalam implementasinya anak-anak yang arus bekerja, kemudian tidak memiliki waktu untuk belajar, artinya hak nya sebagai warganegara tidak terpenuhi.

Mengenai perlindungan pekerja anak, sebetulnya pihak pemerintah telah bekerjasama dengan ILO, membuat program penghapusan kerja-kerja terburuk untuk anak, termasuk perlindungan, pemenuhan dan penghormatan terhadap hak anak, seperti hak untuk memperoleh pendidikan, bermain dan sebagainya. Kemudian juga telah dibentuk Komisi program tersebut. Namun, ternyata masih saja ada persoalan pendidikan pekerja anak. Terutama anak-anak yang bekerja di sektor informal dan industri rumah tangga. Jumlah anak-anak dalam sektor ini demikian banyak dan setiap tahun bertambah, sehingga seringkali tidak tercatat secara pasti berapa jumlahnya. Mereka lah yang seringkali hak pendidikannya terabaikan.

Pemerintah melalui Dinas Sosial dan Tenaga Kerja di daerah-daerah, telah membentuk Rumah Perlindungan Anak (RPA), untuk melindungi anak-anak seperti ini. Beberapa lembaga sosial atau lembaga swadaya masyarakat, juga telah membuat pelatihan atau pendidikan ketrampilan dan penyetaraan tingkat pendidikan untuk anak-anak ini. Namun, kenyataannya pemenuhan atas hak pendidikan bagi mereka beberapa kali sulit dilaksanakan. Hal ini dikarenakan belum adanya kesadaran pendidikan sebagai suatu hak, sebagai warganegara (pasal 31 UUD 1945) dan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, yang menjamin hak atas “pendidikan dasar” (SD-SMP) bagi warga negara berusia tujuh hingga lima belas tahun. Dan juga kesadaran pendidikan sebagai suatu hak yang mendasar yang dimiliki setiap manusia yang dilahirkan, sesuai dengan Deklarasi Hak Asasi Manusia (DUHAM) pasal 26, bahwa setiap orang berhak atas pendidikan secara cuma-cuma.

Kesadaran atas pendidikan sebagai hak, yang belum muncul di kalangan masyarakat. Tidak hanya berada pada tingkat ‘majikan’ namun juga keluarga anak dan masyarakat sekitar tempat tinggal si anak. Pendidikan sebagai hak lebih dipandang sebagai suatu isu mengenai HAM yang tidak lekat dengan kehidupan masyarakat, terutama masyarakat miskin. Karena itu dalam pemenuhan hak pendidikan untuk para pekerja anak, terutama di sektor informal dan industry rumah tangga, perlu dipikirkan bentuk pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan para pekerja anak, dengan melihat persoalan sehari-hari yang mereka hadapi. Persoalan lemahnya ekonomi keluarga, sehingga memaksa anak untuk bekerja menambahi ekonomi keluarga, akan bersentuhan dengan hak atas standar kehidupan yang memadai (Pasal 25, DUHAM), dimana kebanyakan keluarga di Indonesia memiliki penghasilan dibawah 2 dollar per hari. Dan juga bersentuhan dengan hak atas jaminan sosial dan ekonomi (Pasal 22, DUHAM), dimana seharusnya ekonomi keluarga dan sistem sosial terkecil yaitu keluarga dijamin oleh negara.

Oleh karena itu, dalam upaya pemenuhan hak pendidikan untuk para pekerja anak, dibutuhkan kerjasama antara sektor sosial dan ekonomi. Perusahaan atau institusi apapun yang mempekerjakan anak-anak, seharusnya menjamin hak ekonomi, pendidikan dan sosial sekaligus. Dan pemerintah seharusnya juga menjamin ketiganya, agar si anak-anak tidak terjebak dalam suatu pekerjaan selain pekerjaan di rumahnya, yang seringkali mengeksploitasi mereka. Kemudian peran lembaga sosial atau swadaya masyarakat, sebagai perwakilan dari masyarakat sipil, juga seharusnya menjamin ketiga hal tersebut. Mereka dapat bekerjasama dengan kedua pihak yaitu perusahaan dan pemerintah. Atau menyelenggarakan secara swadaya, unit ekonomi bagi masyarakat miskin, lembaga pendidikan yang gratis atau murah, dan menjaga keseimbangan sosial. Misalnya dengan melakukan penyadaran mengenai jaminan hak ekonomi, sosial dan pendidikan di masyarakat. Tanpa langkah nyata, pendidikan sebagai hak kemudian hanya menjadi impian semata, terutama bagi pemenuhan Hak Anak.

 

sumber: Diyah Wara Restiyati (www.sekitarkita.com)

Iklan

51 responses to “Pemenuhan Hak Pendidikan para Pekerja Anak

  1. masalah pekerja anak ini merupakan masalah serius untuk kita semua .salah satu cara menguranginya yaitu dengan peran serta seluruh pihak untuk meyelenggarakan suatu sosialisasi tentang pendidikan dan memberikan motifasi dan memberikan semangat untuk belajar kepada anak agar ikut serta dalam dunia pendidikan dan meninggalkan dunia kerja demi masa depan mereka yang lebih baik,dan menyediakan sarana belajar dan juga alat alat tulis untuk kelencaran kegiatan pendidikan.pemerintah sebagai pengawas ikut serta dalam pengawasan pelaksanaan pekerja anak dengan cara menindak tegas para pelanggar kerja anak sesuai hukum yang berlaku

  2. Jaka Mulyadi PNR Elektronika 07 (5215077524)

    Mempekerjakan anak kecil, dalam bentuk apapun tidaklah di benarkan. Apapun alasannya, mempekerjakan anak di bawah umur adalah tidak benar. Seorang anak juga mempunyai hak untuk hidup tanpa baban yang seharusnya menjadi tanggung jawab orang dewasa.
    Setiap anak memiliki hak untuk bermain bersama teman-temannya, memiliki hak untuk belajar dan memiliki hak untuk mendapat bimbingan dan perlindungan dari orang dewasa pada umumnya dan dari orang tua pada khususnya.
    Seperti yang telah diketahui, bahwa pemerintah atau Negara pun menjamin akan hak untuk anak-anak, seperti yang telah ditetapkan dalam UUD. Baik hak untuk mendapat pendidikan, hak untuk mendapat perlindungan, dan hak yang tidak memperbolehkan mempekerjakan anak-akan dibawah umur. Namun masih ada saja anak di bawah umur yang dipekerjakan, seperti yang telah ditulis dalam artikel ini ada di daerah Jawa Tengah. Dan kemungkinan besar tidak hanya di Jawa Tengah saja, di daerah lainnya pun pasti ada. Hal ini bisa terjadi, meskipun peraturan telah ada, karena berbagai alasan, salah satunya adalah pendidikan dan factor ekonomi.
    Pendidikan bagi anak-anak sangatlah diperlukan dan harus diberikan. Tetapi di Indonesia untuk mendapatkan pendidikan bagi anak yang kurang mampu sangatlah sulit, meskipun ada yang namanya sekolah gratis, tetapi pada kenyataannya sangatlah sulit untuk mendapatkan pendidikan. Sehingga anak-anak yang tidak mendapat pendidikan atau sekolah mengalihkan kegiatan mereka dengan bekerja mencari uang, dan uangnya bisa untuk biaya hidup keluarga atau juga untuk biaya sekolah. Itulah salah satu penyebab anak-anak dibawah umur dipekerjakan, baik oleh orang tuannya atau atas dasar keinginan mereka sendiri.
    Untuk UUD yang memperbolehkan anak-anak bekerja atas izin orang tua, sebenarnya tidak baik, karena semakin bebas saja orang yang mencari keuntungan dari tenaga anak kecil yang bisa di bayar murah. Syarat peraturan tersebut bisa di manipulasi agar anak-anak bisa bekrja, bisa dengan memalsukan surat izin atau memberikan imbalan uang yang tidak seberapa kepada orang tuanya agar mengizinkan anaknya bekerja.
    Meskipun masih banyak yang mempekerjakan anak-anak dibawah umur, tetapi ada juga perusahaan yang benar-benar tidak membolehkan anak-anak bekerja. Ada salah satu fakta di AUTO 2000, perusahaan yang bergerak di bidang Otomotif, seorang anak yang baru lulus sekolah harus menunda beberapa bulan untuk bekerja di perusahaan tersebut, karena usianya yang masih 17 tahun.
    Pada intinya mempekerjakan anak dibawah umur tidaklah benar, karena dapat mengganggu psikologi si anak, oleh karena itu kembali lagi pada orang tua masing-masing dan diri orang dewasa yang memanfaatkan anak-anak untuk bekerja. Apakah kita tega membiarkan anak-anak yang seharusnya hidup dalam dunianya pada usianya, harus merasakan bagaimana kerasnya dunia kerja.

  3. FAJARUDIN S1 REG 2007

    Memang masalah ekonomi yang menjadi dasar mengapa sampai terjadi demikian oleh sebab itu maka seharusnyalah kita bantu mereka dengan adanya sekolah khusus bagi mereka. Tidak selayaknya mereka di usia sekolah sudah harus mengemban pekerjaan yang seharusnya dikerjakan oleh orang dewasa. Perhatian oleh suatu lembaga seperti KOMNAS perlindungan anak pun ikut serta ambil bagian, hal ini harus diperhatikan secara serius karena ini masalah yang tak kunjung berakhir bila disepelekan. bisa saja nantinya malah akan jadi lonjakan angka yang drastis melebihi apa yang ada sekarang. Peran pemerintah jg harus menindak tegas para pelaku pelanggaran. ini jg demi nasib anak-anak bangsa Indonesia jangan sampai ini terjadi terus menerus. solusinya mari bersama kita rangkul mereka dan memberinya arahan, pendidikan yang layak bagi mereka.
    MARI BERSAMA MEMBANGUN ANAK BANGSA
    Ini bukan hanya tugas satu pihak saja melainkan tanggung jawab kita semua..

  4. niwan PNR elka 07

    Jika merujuk pendapatnya Glickman (1985) peranan supervisi. Pertama, seharusnya supervisi dijadikan sebagai sarabna untuk pemberian bimbingan dan bantuan kepada guru dan staf tata usaha agar mampu meningkatkan kinerjanya, Kedua, Pemberian bimbingan dan bantuan dilakukan secara langsung dan tidak perlu ada perantara, Ketiga, Pemberian bantuan dan bimbingan harus dikaitkan dengan peristiwa yang memerlukan bimbingan, keempat, Kegiatan supervisi dilakukan secara berkala agar terjadi mekanisme yang ajeg dan rutin, Kelima, Supervisi terjadi dalam suasana yang kondusif penuh sifat kekeluargaan agar terjalin kerjasama yang baik, dan keenam, Supervisi dilakukan dengan mengunakan catatan agar apa yang dilakukan dan ditemukan tidak hilang. Temuan dan hal-hal penting lainnya merupakan bahan binaan yang sangat penting artinya dan dapat dibahas dalam pertemuan rutin pengawas dan kepala sekolah.Seorang supervisor berperan penting dalam pembinaan keterampilan mengajar guru. Jika dilihat perannya, peran supervisor adalah memberi support (supprting), membantu (assisting), dan mnegikutsertakan (sharing). Peranan seorang supervisor ialah menciptakan suasana sedemikian rupa sehingga guru-guru merasa aman dan bebas dalam mengembangkan ptensi dan daya kreasi mereka dengan penuh tanggungjawab. Suasana yang demikan hanya dapat terjadi bila kepemimpinan dari supervisor itu bercorak demokratis bukan otokratis. Sehingga pada gilirannya guru-guru dapat tumbuh secara personal maupun profesional.

  5. niwan PNR elka 07 5215077537

    Pada awal pembicaraan mengenai kebijakan pekerja anak sering diasumsikan bahwa semua pekerjaan yang dilakukan anak dianggap membahayakan. Namun tahun 1990 mulai muncul pemahaman, pekerjaan tertentu yang dilakukan anak dapat memberikan pengalaman, pengetahuan dan keahlian yang dibutuhkan anak bagi masa depannya. Pekerjaan ringan setelah pulang sekolah, magang, pekerjaan di lahan milik keluarga atau pekerjaan lain yang tidak menghasilkan uang bagi anak tidak dikategorikan sebagai pekerja anak. Istilah pekerja anak diartikan sebagai pekerjaan yang menghalangi anak bersekolah dan pekerjaan yang membahyakan kesehatan, fisik dan mentalnya (Rogers & Swinnerton).Walaupun sudah ada undang-undang yang mengatur ketenagakerjaan, tetapi masih tetap saja mempekerjakan anak-anak di bawah umur. Hal itu terjadi karena keadaan yang memaksa mereka kerja demi mendapatkan uang untuk kelangsungan hidupnya.Karena kemiskinan dan kebodohan yang menyababkan para orang tua tidak bisa mencukupi kebutuhan anak termasuk pendidikan anak. Oleh karena itu harus ada tindakan pemerintah dan di dukung oleh elemen-elemen masyarakat untuk meningkatkan sumber daya manusia terutama dibidang pendidikan, karena dengan
    Masih banyak anak-anak Indonesia yang tidak bisa mengenyam pendidikan dan anggapan kurang pentingnya pendidikan dibandingkan dengan hal lain yang lebih dianggap menghasilkan secara ekonomis. Bopha menyadari bahwa masalah ini menjadi perdebatan panjang. Pendidikan dasar formal yang ada bagi banyak kalangan masih dianggap mahal. Meskipun kebijakan nasional mengenai wajib belajar sembilan tahun telah dicanangkan, namun pelaksanannya tidak semudah itu. Bagi kelompok miskin, pendidikan seringkali tidak menjadi proritas bagi keluarga. Artinya pendidikan anak bisa dikorbankan untuk biaya kebutuhan lainnya yang dianggap lebih mendesak. Bopha melihat hal ini diperparah dengan pandangan skeptikal, yang memandang bahwa pendidikan formal tidak selalu relevan dengan dunia kerja, sering timbul pandangan bahwa pendidikan bukan persoalan penting. “Dalam konteks perlindungan hak anak, ini berarti sebuah pelanggaran. Keluarga dan negara telah melakukan pembiaran anak kehilangan haknya untuk memperoleh kesempatan menjadi manusia cerdas, mengembangkan pola pikir, perilaku dan kepribadiannya,” ungkapnya. Lebih lanjut ia mengatakan bahwa semua unsur itulah yang dibutuhkan agar mereka mampu mengarungi kehidupannya kelak. Jika hal ini tidak terpenuhi maka hal ini menjadi titik awal bagaimana mutu sumberdaya manusia akan

  6. AGUNG PRASETYO RINALDI

    AGUNG PRASETYO RINALDI
    5215077530
    PNRS1 ELEKTRONIKA 07

    Pendidikan memang sudah menjadi prioritas pemerintah,maka dari itu pemerintah secara terencana meningkatkan pembangunan sarana pendidikan dasar.Sukses yang dicapai dengan program wajib belajar 6 tahun ini memotivasi pemerintah untuk meningkatkan porgram wajib belajar menjadi 9 tahun sejak Mei 1994 yang lalu.
    Berdasarkan penelitian tentang peran anak edalam ekonomi rumah tangga. Sangat penting untuk menilai pada tingkat rumah tangga mengenai sejauh mana dampak maupun prospek dari perubahan program pendidikan yang sedang dilakukan oleh pemerintah Dipilihnya tiga lokasi yang berbeda diharapkan dapat mengidentifikasi faktor sosial budaya yang berpengaruh terhadap variasi dalam tipe dan peran ekonomi yang dilakukan oleh anak baik didalam maupun diluar rumah tangga.
    Dari hasil penelitian ini terbukti bahwa keterlibatan anak dalam ekonomi atau usaha rumah tangga – sebagai pekerja anak – bukan merupakan faktor utama yang menyebabkan mereka tidak bersekolah. Oleh karena itu, perhatian pemerintah dan masyarakat, harus diarahkan untuk mengatasi adanya berbagai faktor penyebab lainnya yang mengakibatkan anak keluar dari sekolah (dropout) atau bagi yang telah lulus SD tidak mampu melanjutkan ke SMP.

  7. Nama : Ramadani Arifin
    No Reg : 5215 08 5055
    Program : Non regular

    Komentar tentang “Pendidikan Anak Jalanan”

    Menurut saya, anak jalanan harus mendapatkan perhatian khusus dari pemerintah/Negara. Sesuai dengan pasal 34 yang berbunyi ” Fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh Negara”. Perhatiannya tidak lain tidak bukan adalah bekal iman dan pendidikan. Pendidikan tanpa dilandasi iman akan membuahkan penjahat intelektual yang menjadi boomerang bagi rakyat kita dan Negara lainnya. Menurut saya, pendidikan yang baik untuk anak jalanan adalah pendidikan ketrampilan. Dengan ketrampilan, anak jalanan mempunyai keahlian khusus sesuai dengan bakatnya. Dan dapat membantu perekonomian keluarganya yang lemah. Seperti membuat lembaga kursus yang siap pakai dan disalurkan kepada perusahaan yang berkerja sama dengan pemerintah. Dan yang penting tanpa dipungut biaya alias gratis. Dengan begitu anak jalanan akan berpikir kritis dalam menghadapi masa depannya dan mengurangi pengangguran, kemiskinan Negara kita. Dan anak jalanan harus disediakan tempat tinggal bagi yang tidak mempunyai tempat tinggal. Dan tempat itu dikelola oleh petugas yang berwenang demi mengatur kelangsungan hidupnya. Kalau menurut saya pak.

  8. Redi hermawan
    5215077541
    PNR teknik Elektronika

    Pekerja anak merupakan sebab dan akibat dari kemiskian. Keluarga yang miskin mendorong anak-anak mereka bekerja mencari penghasilan tambahan keluarga atau bahkan sebagai cara untuk bertahan hidup. Adanya pekerja anak mengabadikan keluarga miskin turun temurun, pertumbuhan ekonomi dan perkembangan sosial yang lambat. Pekerja anak menghambat anak-anak memperoleh pendidikan dan ketrampilan yang dibutuhkan untuk mendapatkan pekerjaan yang layak di masa depan.
    Itulah yang menjadi penyebab utama dan klasik: anak-anak itu harus rela kehilangan dunia mimpi mereka dan sebaliknya harus mengalami kenyataan pahitAnak-anak seharusnya bersekolah dan bukannya bekerja.
    Anak-anak seharusnya bersekolah dan bukannya bekerja. . . . Angka putus sekolah di desa-desa tinggi karena pendidikan membutuhkan uang. Mereka seharusnya mendapatkan pendidikan gratis. Anak-anak ini merupakan masa depan bangsa

  9. Eko budiono PNR Elektroika 07 (5215077520)

    Menurut saya pemenuhan hak pendidikan pada para pekerja anak di indonesia harus diperjuangkan dengan serius karena masih banyak kita jumpai masalah-masalah pekerja anak di indonesia tepatnya masih banyak kita jumpai dipedasaan seperti ang saya baca dari artikel diatas, namun saya juga punya pengalaman pekerja anak di indonesia karena saya berasal dari desa juga tepatnya kota kediri ,Jawa Timur. Disana masi banyak saya jumpai anak-anak yang sudah bekerja sebagai buruh tani, memang kebanyakan anak-anak desa hanya menempuh pendidikan sampai jenjang SLTP, mereka memilih langsung bekerja karena alasan ekonomi karena “daripada sekolah lebih baik aku bekerja toh nanti juga aku akan bekerja pula sebagai petani”, begitu tuturnya. Namun dari pendapatnya diatas saya kurang setuju karena dengan menempuh jenjang pendidikan yang lebih tinggi kita bisa meraih kehidupan yang lebih baik sehingga kita bisa berguna bagi orang lain di sekitar kita.

  10. Haris Triyono PNR elka 07 ( 5215077522)

    Menurut saya setelah membaca artikel diatas faktor dan alasan kenapa anak bekerja dibawah umur adalah ekonomi. Kenapa para orang tua tidak berfikir efek yang timbul dari anak tidak bersekolah dan bekerja dibawah umur. Selain tenaga kemampuan sianak belum cukup dipekerjakan, faktor psikologi sianak menjadi terganggu. Seharusnya umur-umur dibawah 18 tahun, dimana sianak dapat untuk lebih bisa mengembangkan kemampuan yang dimiliki tiap anak supaya sianak tau akan kemampuan yang dimiliki, karena setiap kemampuan sianak berbeda, ada anak yang pandai dalam intelegensinya ada anak yang biasa saja dalam intelegensinya tapi dia kreatif dalam segala hal, sehingga sianak bisa melatih kebiasaan yang dia miliki supaya sianak tau harus kemana dan bagaimana esok dengan kemampuan yang dia miliki agar dia dapat mendapat pekerjaan yang layak di hari dimana umurnya cukup untuk dipekerjakan

  11. Pekerja anak adalah sebuah istilah untuk mempekerjakan anak kecil dengan gaji yang kecil, dan dapat memiliki konotasi pengeksploitasian anak kecil atas tenaga mereka. Anak yang berusia di bawah 18 tahun di Indonesia, dilarang di pekerjakan (Undang-Undang Ketenagakerjaan RI No.13 Tahun 2003). Namun dalam undang-undang tersebut, anak-anak boleh dipekerjakan dengan syarat mendapat izin orang tua dan bekerja maksimal 3 jam sehari.

    Berdasarkan hasil Survey Angkatan Kerja Nasional Tahun 2003, terdapat 566,526 ribu pekerja anak di seluruh Indonesia, dan pekerja anak di pedesaan dinyatakan lebih banyak dibandingkan di perkotaan. Salah satu wilayah pedesaan di Indonesia yaitu di desa Teluk Wetan dan Bugo, Kecamatan Welahan, kabupaten Jepara, Jawa Tengah, setidaknya terdapat 2.187 anak dibawah umur yang bekerja di berbagai sektor informal (Harian Seputar Indonesia, 6 April 2007). Dan berdasarkan data dari International Labour Organization, International Programme on the Elimination of Child Labour (ILO-IPEC) pada Juni 2007, lebih dari 132 juta anak laki-laki dan perempuan di dunia, berusia 5-14 tahun yang bekerja di bidang pertanian, jasa dan industri rumah tangga.

    Anak-anak yang bekerja rata-rata berpendidikan rendah (SD atau SMP). Dari data ILO-IPEC tahun 2005, terdapat 52,47% pekerja di Indonesia yang berusia antara 15-19 tahun (termasuk pekerja anak), tidak pernah bersekolah atau tidak lulus sekolah dasar. Dan 47,46% yang berpendidikan SMP dan SMA (lulus dan tidak lulus). Anak-anak berusia dibawah 15 tahun kemudian paling banyak dipilih sebagai pekerja, dengan alasan upah yang lebih murah, biaya produksi lebih sedikit, usia mereka relatif muda, sehingga sangat mudah diatur, dan tidak banyak menuntut seperti pekerja dewasa.

  12. FATHURACHMAN PNR Teknik Elektronika 07

    memperkerjakan anak kecil ini seharusnya ditiadakan apalagi dengan gaji yang sangat kecil, karena Seorang anak juga mempunyai hak untuk hidup tanpa baban yang seharusnya menjadi tanggung jawab orang dewasa.
    Setiap anak memiliki hak untuk bermain bersama teman-temannya,bersekolah sampai menjadi orang sukses, memiliki hak untuk belajar dan memiliki hak untuk mendapat bimbingan dan perlindungan dari orang dewasa pada umumnya dan dari orang tua pada khususnya.Membahas hak perlindungan pekerja anak, seharusnya pemerintah telah bekerjasama dengan ILO, membuat program untuk menghapusan pekerja terburuk untuk anak di usia dini dan ikut serta mengawasinya, seperti perlindungan, pemenuhan dan penghormatan terhadap hak anak, hak untuk memperoleh pendidikan,mecapai cita-cita yang mereka inginkan dan lai-lainnya

  13. Nama : Wawan sari
    No.reg : 5215077534
    PNR S1 Elektronika 07

    Pemerintah seharusnya lebih serius dalam menangani masalah pendidikan pekerja anak, karena menurut data terdapat sekitar 4 juta anak berusia 13-15 tahun tidak bersekolah, sekitar 1,3 juta usia 10-14 tahun masuk ke dalam angkatan kerja. Sebagian dari anak-anak tersebut beresiko terlibat dalam bentuk-bentuk pekerjaan terburuk untuk anak.
    Anak putus sekolah pada tahap sekolah dasar sebagian besar disebabkan oleh biaya yang mereka harus bayar untuk mengikuti program pendidikan. Anak-anak putus sekolah diusia dini mengakibatkan timbulnya pekerja anak. Sisanya menjadi pengangguran diusia muda yang tidak memiliki pengetahuan dan keterampilan cukup untuk bersaing di bursa kerja apalagi memperoleh pekerjaan yang layak. Oleh sebab itu sebaiknya pemerintah memberikan pendidikan gratis kepada anak-anak tersebut. Selain itu juga harus menyediakan perlengkapannya seperti buku tulis, pensil, dan seragam sekolah. Kemudian pemerintah juga wajib memberikan pengertian atau nasehat kepada orangtua anak bahwa mereka harus mengijinkan anak-anak mereka untuk bersekolah.

  14. Ade setiawan PNR Elektronika 07 (5215077547)

    Dinegara kita ini memang banyak sekali anak dibawah umur yang seharusnya belum pantas untuk bekerja tetapi mereka sudah bekerja,padahal kenyataanya mereka belum pantas untuk dipekerjakan.Akan tetapi Hal ini berkaitan dengan masalah ekonomi mereka atau memang ada keterlibatan orang tua dibelakang semua kejadian ini. Anak – anak seusia ini harusnya mereka masih punya banyak waktu bermain bersama teman – temanya dirumah atau disekitar lingkunganya, akan tetapi itu itu semua sudah tidak bisa mereka rasakan. Pekerja anak sering kali berada dibawah tekanan di satu sisi yang tidak mungkin bisa ia hindari,misalnya keluarga/para orang tua yang tidak bertanggung jawab atau memang keadaan ekonomi merekalah yang memaksa mereka untuk bekerja. Mereka juga tidak bebas untuk memutuskan akan kembali bersekolah atau tidak,karena banyak dari anak – anak ini waktu yang seharusnya digunakan untuk sekolah tetapi digunakan untuk bekerja.
    Apakah akan seperti ini generasi – generasi penerus bangsa ini. seharusnya pemerintah pun bisa memaksimalkan kinerjanya dalam hal ini,padahal pemenuhan hak anak pun sudah diatur dalam UU yang dibuat pemerintah. seharusnya anak sudah mempunyai hak untuk mendapatkan pendidikan yang layak untuk mereka. Tetapi ini tidaklah menjadi tanggung jawab dari pemerintah saja, akan tetapi peranan orang-orang terdekat mereka seperti para orang tua pun harus ikut andil dalam hal ini,karena para orang tualah yang mempunyai tanggung jawab besar dalam kelangsungan masa depan anak..

  15. Danu purwanto PNR Elektronika 07 (5215077529)

    menurut saya para anak tersebut bekerja pada usia dini ada yang karena mereka terpaksa karena kurangnya uang jajan, kurangnya uang untuk kebutuhan sehari-hari dari pekerjaan orang tua mereka, serta ada yang melakukannya karena mereka ikut-ikutan teman-teman mereka. masalah yang pertama harus ditangani adalah kurangnnya lahan pekerjaan yang layak bagi orang tua mereka, karena intinya adalah orang tua mereka yang seharusnya bertanggung jawab terhadap anak tersebut. ekonomi di indonesia sekarang ini sudah terbilang sangatlah sulit, apalagi bagi mereka yang hidu di bagian ibu kota, bagi mereka mencari uang untuk makan saja sangatlah sulit apalagi harus membayar kabutuhan anak-anak mereka serta sekolah-sekolah mereka. jadi menurut saya untuk sekarang ini program-program untuk beasiswa dan sekolah gratis kadapa semua anak-anak yang ingin bersekolah lebih ditingkatkan lagi agar mereka lebih mementingkan sekolah ketimbang pekerjaan mereka, sebab salah satu alasan mereka bekeja ketimbang memperoleh pendidikan adalah salah satu faktor kurangnya biaya dan ingin membantu orang tua tersebut mencari nafkah.

  16. M.goeltom PNR elektronika s1 (521507758)

    Negara kita ini adalah negara yang terkaya dari berbagai negara kaya akan alam,kaya akan bnerbagai macam ragamnya akan tetapi masih ada kelemahan-kelamahan di negara kita ini sebagai contoh misalanya mempekerjakan anak kecil itu adalah dosa yang paling besar sebagaimana mestinya bahwa anak yang masih di bawah umur dilarang mempekerjakan demi melangsungkan kehidupanya secara langsung maupun secara tidak langsung.karena disamping itu mereka mesih mempunyai orang tua semestinya orang tualah yang seharusnya di tekan dan memberi masukan terhadapnya agar bertanggung jawab atas anaknya,nah inilah yang harus pemerintah tangnin dengan serius karena makin lama negara kita ini makin banyak jumlah penduduk yang mempekerjak anak di bawah umur.da juga makin lama makin bertambahlah penduduk miskin di negara kita ini.karena kalau kita lihat dengan sendiri tidak ada pantasnya lah anak-anak disuruh bekerja untuk mencari makan demi sesuap nasi,mangkinkah kita hanya berdiam saja melihat peristiwa tersebut apabila kita dapat merasakan apa yang mereka rasakan ,seharunya pemerintah mengambil kebijakan-kebijakan yng ada di negeri kita ini sebagaimana mestinya dicantimkan di dalam perundang-undangan komnas perlindungan anak.

  17. Dunia anak adalah dunia bermain dan bersukacita. Pun demikian, nyatanya tidak semua anak memiliki kesempatan untuk menikmati dunia anaknya. Ratusan bahkan ribuan anak menjadi pekerja anak, dan beberapa di antara mereka bahkan tercerabut dari dunia anaknya. Hal ini dengan jelas dapat dilihat saat melintasi perempatan jalan-jalan besar di dekat traffic light tampak anak-anak yang hidup di jalanan, mengais sampah dan mengumpulkannya atau dilacurkan
    Pekerja anak dipandang sebagai bentuk pengingkaran terhadap hak anak. Dalam Konvensi Hak Anak, terdapat empat hak dasar anak, yaitu hak hidup, perlindungan, tumbuh kembang dan partisipasi. Pekerja anak dapat dilihat sebagai pelanggaran terhadap hak tumbuh kembang anak. Hak tumbuh kembang di sini artinya anak memiliki hak untuk dapat tumbuh dan berkembang dengan baik, baik secara fisik maupun psikis. Adalah tugas orang dewasa untuk memastikan anak dapat tumbuh dan berkembang dengan baik.
    Umumnya, anak yang dipekerjakan akan kehilangan waktunya untuk bermain atau bersekolah. Hal tersebut tentu saja akan mempengaruhi proses tumbuh kembang anak. Lebih jauh lagi, anak yang bekerja rentan terhadap eksploitasi terhadap dirinya, misalnya eksploitasi ekonomi, fisik maupun seksual. Oleh karenanya, orang yang mempekerjakan anak dapat dianggap mengambil keuntungan secara sepihak dari pekerjaan yang dilakukan oleh anak

  18. Jalur pendidikan diyakini merupakan jalan keluar terbaik untuk mengatasi masalah pekerja anak di Indonesia. Langkah itu tidak saja mengembalikan pemenuhan hak-hak anak atas pendidikan dan kesempatan pengmbangan diri, tetapi juga mengeluarkan anak dari lingkungan kerja yang seringkali merugikan kesehatan dan keamanan anak
    Selain waktu, pekerja anak seringkali berada di bawah otoritas pihak lain yang tidak mungkin dilawannya sendiri, misalnya majikan. Ia tidak bebas memutuskan akan kembali bersekolah atau tidak, tanpa seijin majikannya. Kemampuan berpikir anak juga sangat berkurang, karena kekurangan gizi yang berkepanjangan.
    pendidikan yang dinilai paling tepat bagi pekerja anak adalah sekolah yang bersifat terbuka dan fleksibel (open-flexitime school). Artinya, anak boleh memilih jam sekolah sesuai waktu luangnya. Kelompok belajar, dan kelas jarak jauh juga merupakan alternatif yang bisa ditempuh

  19. aditya triantoro PNR Elaktronika 07 5215077538

    Assalammualaikum Wr. Wb.
    Menurut pendapat saya, kurang setuju adanya pekerja anak yang bekerja di bawah umur 18 tahun. Karena pekerja anak selain mendapatkan gaji yang rendah, pekerja anak juga dapat mengorbankan masa anak – anaknya untuk bermain dan belajar. Sehingga pekerja anak tidak dapat memenuhi hak pendidikannya untuk belajar. Oleh karena itu, pemerintah,masyarakat,dan perusahaan yangg mempekerjakan pekerja anak harus benar – benar bekerjasama dalam membuat program penghapusan kerja pekerja anak. Dengan adanya kerjasama pemerintah,masyarakat,dan perusahan yang mempekerjakan pekerja dalam membuat program penghapusan pekerja anak.Setelah itu, pemerintah harus dapat meningkatkan kesadaran pendidikan pekerja anak untuk mendapatkan pendidikan sebagai pemenuhan atas hak pekerja anak sebagai anak dengan cara memberikan pendidikan serta sarana dan prasarananya dengan mudah.Dengan memberikan pendidikan serta sarana dan prasarananya dengan mudah sehingga tidak ada penyesalan dari pekerja anak untuk mendapatkan pendidikan sebagai pemenuhan atas hak pekerja anak sebagai anak.
    Wassalammualaikum Wr. Wb.

  20. Hafis Rizki R
    5215077517
    PNR Pend. Teknik Elektronika

    Orangtua di Indonesia masih terjerat oleh kemiskinan. Setidaknya ada 34 juta orang miskin di Indonesia (menurut data badan pusat statistis, BPS, yang dilansir pada bulan Mei lalu).
    Karena kemiskinan, orangtua sengaja mempekerjakan anak-anaknya guna menopang kehidupan keluarga. Anak-anak harus putus sekolah dan menjadi pengamen, penjual koran, pekerja kasar, buruh pabrik dan bangunan untuk mendapatkan sesuap nasi.

    Pernahkan Anda melihat anak-anak kecil berlarian menggejar mobil di depan lampu merah (lampu lalu lintas)? Mereka menengadahkan tangan memohon belas kasihan. Atau melihat anak-anak kecil membantu mendorong kapal, menggangkut ikan hasil tangkapan di pingir laut? Menjadi buruh pabrik? Tukang sol sepatu, pengamen di bus kota?

    Di usia produktif mereka sudah harus bekerja membanting tulang guna mencukupi kebutuhan hidup. Mereka tidak sekolah. Bahkan mereka seringkali mendapat perlakukan kasar dari majikan, seperti pukulan, tendangan ataupun makian. Lebih dari itu, mereka juga seringkali mendapat perlakuan kurang mengenakan dari petugas satuan polisi pamong praja (Satpol PP) yang selalu melakukan razia dengan dalih menganggu ketertiban umum.

    Dalam UU Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan disebutkan, bahwa pekerja anak adalah anak-anak yang berusia di bawah 18 tahun. Menurut data dari organisasi buruh internasional (ILO), jumlah pekerja anak di Indonesia usia 10-14 tahun mencapai 10,4 juta orang. Jumlah ini meningkat pada tahun 2007, menjadi 2,6 juta anak. Berdasarkan studi antara ILO dan Universitas Indonesia pada tahun 2003, jumlah pekerja anak domestik mencapai 700 ribu, sebanyak 90 persen adalah anak perempuan.

  21. aditya triantoro PNR Elektronika 07 (5215077538)

    Assalammualaikum Wr. Wb.
    Menurut pendapat saya, kurang setuju adanya pekerja anak yang bekerja di bawah umur 18 tahun. Karena pekerja anak selain mendapatkan gaji yang rendah, pekerja anak juga dapat mengorbankan masa anak – anaknya untuk bermain dan belajar.Sehingga pekerja anak tidak dapat memenuhi hak pendidikannya untuk belajar. Oleh karena itu, pemerintah,masyarakat,perusahaan yang mempekerjakan anak ikut serta dalam membuat program penghapusan kerja pekerja anak. Dengan adanya kerjasama pemerintah,masyarakat,perusahaan yang mempekerjakan anak dalam membuat program penghapusan pekerja anak. Setelah itu,pemerintah harus mampu meningkatkan kesadaran pendidikan pekerja anak untuk mendapatkan pendidikan sebagai pemenuhan atas hak pekerja anak sebagai anak .Sehingga tidak ada penyesalan dari pekerja anak untuk mendapatkan pendidikan sebagai pemenuhan atas hak pekerja anak sebagai anak.
    Wassalammualaikum Wr. Wb.

  22. Pekerja anak adalah sebuah istilah untuk mempekerjakan anak kecil. Istilah pekerja anak dapat memiliki konotasi pengeksploitasian anak kecil atas tenaga mereka, dengan gaji yang kecil atau pertimbangan bagi perkembangan kepribadian mereka, keamanannya, kesehatan, dan prospek masa depan.
    Di beberapa negara, hal ini dianggap tidak baik bila seorang anak di bawah umur tertentu, tidak termasuk pekerjaan rumah tangga dan pekerjaan sekolah. Seorang ‘bos’ dilarang untuk mempekerjakan anak di bawah umur, namun umum minimumnya tergantung dari peraturan negara tersebut.

  23. FATHURACHMAN PNR Teknik Elektronika 2007

    Program wajib belajar 9 tahun didasari konsep pendidikan dasar untuk semua, yang pada hakekatnya berarti penyediaan akses yang sama untuk semua anak. Tujuan yang ingin dicapai dengan program ini adalah merangsang aspirasi pendidikan orang tua dan anak. Untuk mencapai sasaran program wajib belajar 9 tahun, pemerintah telah menyusun strategi untuk mencapai sasaran, antara lain: meningkatkan jumlah dan daya tampung SMP, mengangkat guru baru, menyediakan lebih banyak sarana belajar, mengajukan anggaran yang lebih besar untuk penddikan, membebaskan uang sekolah dan mensubsidi sekolah swasta.

  24. cut rahmi
    5215077552

    saya sangat stuju dengan adanya upaya pemenuhan hak pendidikan untuk para pekerja anak, dan kerjasama antara sektor sosial dan ekonomi. Perusahaan atau institusi apapun yang mempekerjakan anak-anak, seharusnya menjamin hak ekonomi, pendidikan dan sosial sekaligus. Dan pemerintah seharusnya juga menjamin ketiganya, agar si anak-anak tidak terjebak dalam suatu pekerjaan selain pekerjaan di rumahnya, yang seringkali mengeksploitasi mereka. Kemudian peran lembaga sosial atau swadaya masyarakat, sebagai perwakilan dari masyarakat sipil, juga seharusnya menjamin ketiga hal tersebut. Mereka dapat bekerjasama dengan kedua pihak yaitu perusahaan dan pemerintah. Atau menyelenggarakan secara swadaya, unit ekonomi bagi masyarakat miskin, lembaga pendidikan yang gratis atau murah, dan menjaga keseimbangan sosial. Misalnya dengan melakukan penyadaran mengenai jaminan hak ekonomi, sosial dan pendidikan di masyarakat. Tanpa langkah nyata, pendidikan sebagai hak kemudian hanya menjadi impian semata, terutama bagi pemenuhan Hak.

  25. Asep Syaefudin PNR S1 ELKA 07 (5215077531)

    Pekerja anak adalah sebuah istilah untuk mempekerjakan anak kecil dengan gaji yang kecil, dan dapat memiliki konotasi pengeksploitasian anak kecil atas tenaga mereka. untuk memperbaiki nasib anak Indonesia saat ini setidaknya terdapat dua pendekatan, yakni dengan mempermudah akses pendidikan bagi masyarakat terutama masyarakat miskin dan membuka akses layanan bagi keluarga miskin seperti terbukanya akses dunia kerja, akses kesehatan, dan akses sosial lainnya.Selain mempermudah akses pendidikan bagi kalangan tidak punya, pemerintah juga perlu mendukung keberadaan sistem pendidikan yang dapat mengembangkan pribadi dan kepandaian anak, serta menjauhkan anak dari kekerasan ekonomi.
    Mengenai perlindungan pekerja anak, sebetulnya pihak pemerintah telah bekerjasama dengan ILO, membuat program penghapusan kerja-kerja terburuk untuk anak, termasuk perlindungan, pemenuhan dan penghormatan terhadap hak anak, seperti hak untuk memperoleh pendidikan, bermain dan sebagainya. Kemudian juga telah dibentuk Komisi program tersebut. Namun, ternyata masih saja ada persoalan pendidikan pekerja anak. Terutama anak-anak yang bekerja di sektor informal dan industri rumah tangga. Jumlah anak-anak dalam sektor ini demikian banyak dan setiap tahun bertambah, sehingga seringkali tidak tercatat secara pasti berapa jumlahnya. Mereka lah yang seringkali hak pendidikannya terabaikan.

  26. Yulianto pnr (5215077536)

    Fakir miskin dan anak-anak terlantar diurus oleh negara yang tercantum dalam UUD 45.Diperkuat dengan adanya setiap warga negara mendapat pendidikan. Dasar inilah seharusnya pengeksploitasian anak dibaawah umur di negeri ini tidak terjadi. Tetapi pemerintah seolah-olah lupa dengan adanya peraturan tersebut, sehingga kelemahan pemerintah dimanfaatkan oleh si kaya (pengusaha) untuk bisa merauh keuntungan sebanyak mungkin .Tetapi alasan ekonomi yang menyebabkan para orang tua mempekerjakan anak di bawah umur.Keadaan inilah yang membuat saya prihatin bagaimana masa depan mereka jika tidak mengenyang pendidikan.

  27. windy (5215070253)

    menurut saya, tidak pantas seorang anak bekerja, apalagi untuk memenuhi kebutuhan keluarganya, karena masa anak-anak adalah masa untuk belajar, bermain dengan teman-temanya dan mengetehui segala sesuatu yang belum diketahui. Seharusnya yang bekerja adalah orang tua dari anak tersebut, tapi bila orangtua benar-benar tidak mampu untuk bekerja dengan terpaksa anak itu harus menggantikan orangtuanya, tetapi anak tersebut tidak boleh meninggalkan kewajibannya yaitu belajar.

  28. fahmi amran pnr elektronika s1 07

    kalo menurut saya seorang anak belum pantas untuk dipekerjakan.Akan tetapi Hal ini berkaitan dengan masalah ekonomi mereka atau memang ada keterlibatan orang tua dibelakang semua kejadian ini Karena pekerja anak selain mendapatkan gaji yang rendah, pekerja anak juga dapat mengorbankan masa anak – anaknya untuk bermain dan belajar Di usia produktif mereka sudah harus bekerja membanting tulang guna mencukupi kebutuhan hidup. Mereka tidak sekolah. Bahkan mereka seringkali mendapat perlakukan kasar dari majikan, seperti pukulan, tendangan ataupun makian. Lebih dari itu, mereka juga seringkali mendapat perlakuan kurang mengenakan dari petugas satuan polisi pamong praja (Satpol PP) yang selalu melakukan razia dengan dalih menganggu ketertiban umum.Keadaan inilah yang membuat saya prihatin bagaimana masa depan mereka jika tidak mengenyang pendidikan.

  29. Kurnia_E07(5215070249)

    Permasalahan tentang pendidikan anak tidak akan ada habisnya sebelum semua anak mendapatkan hak mereka untuk memperolah pendidikan. Sebagai orang tua seharusnya mengusahakan anaknya untuk lebih maju paling tidak selangkah dari pendidikan orang tuanya dahulu tapi akan lebih baik lagi apabila anak dapat menyelesaikan pendidikannya sampai mendapat gelar sarjana. Pemerintah harus benar-benar memberikan anggaran yang besar untuk masalah pendidikan karena banyak sekali anak di Indonesia membutuhkan pendidikan yang layak demi masa depan mereka yang akan membuat bangsa ini maju dan membanggakan bangsa Indonesia di mata dunia. Jangan menjadikan anak sebagai penghasil uang, anak itu mempunyai hak untuk sekolah, berhak untuk bermain dengan teman-temannya, bukan untuk mencari uang, yang mempunyai hak untuk mencari uang adalah orang tua terutama kepala keluarga. Janganlah memanfaatkan anak-anak untuk mencari uang, biarlah mereka hidup sebagai anak-anak dan menjalankan kewajiban mereka sebagai anak yaitu belajar demi masa depannya dan hak mereka untuk bermain dengan teman-teman sepantaran mereka. Belum saatnya mereka untuk bekerja keras, bila saatnya sudah tiba ketika mereka dewasa barulah mereka wajib mencari penghasilan untuk menghidupi keluarga mereka kelak.

  30. Menurut saya, sebenarnya seorang anak yang bekerja untuk membantu perekonomian keluarganya boleh – boleh saja. Selama anak tersebut masih melanjutkan pendidikannya disekolah, dan melakukan pekerjaan yang tidak membuatnya merasa tersiksa. Karena tak dapat dipungkiri bahwa beban ekonomi yang semakin sulit, secara tidak langsung akan mendorong seorang anak untuk bekerja membantu memenuhi kebutuhan keluarga. Namun dengan rendahnya kesadaran para orang tua dan anak itu sendiri akan pentingnya pendidikan di sekolah sering kali membuat mereka meninggalkan pendidikan. Dan hal inilah yang sebenarnya harus dibenahi. Pihak sekolah seharusnya mampu memberi pengertian kepada masyarakat yang berekonomi kurang agar, walaupun anaknya bekerja untuk membantu ekonomi keluarga tetapi, pendidikan di sekolah harus pula dipentingkan agar anaknya kelak bisa membuat keadaan ekonomi keluarga menjadi lebih baik.

  31. Nama : Makmur
    Nim : 5215079453
    kelas : Dikmenti
    pekerja anak dibawah umur (kurang dari 18 tahun) adalah pelanggaran komnas anak dan pelakunya bisa dikenakan sanksi apabila berperan serta dalam memperkerjakan anak dibawah umur.banyak sekali orang tua yang tinggal didesa – desa yang memiliki anak dibawah umur menyuruh anaknya bekerja untuk membantu memenuhi kebutuhan hidup orang tuanya.semestinya pemerintah jangan menyalahkan kejadian seperti itu,seharunya pemerintah mencari solusi mengapa dan bagaimana anak dibawah umur yang tinggal di desa sudah banyak yang bekerja dibandingkan anak anak dibawah umur yang tinggal dikota.yang saya lihat mengapa ada perbedaan seperti itu,karena adanya ketidakmerataan pembangunan,antara pembangunan di kota dengan di desa,dikota pembangunan cukup pesat sehingga untuk bersaing di kota harus memiliki pendidikan yang tinggi dan skill yang memadai sedangkan di desa pembangunan sangat kurang dan masih mengandalkan mata pencarian bertani sebagai sumber penghasilan sehingga menimbulkan pola pikir pada orang tua desa anaknya disekolah SD saja sudah cukup untuk turun kesawah sebagai petani.apabila pembangunan sudah merata antara di kota dengan di desa maka untuk pencegahan anak dibawah umur bekerja bisa ditekan semaksimal mungkin.dengan begitu pemerintah bisa melaksanakan pendidikan nasional secara merata di seluruh indonesia.

  32. jan_elektro_5115072376

    Menurut saya, pekerja anak sama saja mengekploitasi mereka, atau sama saja melanggar HAM mereka. Pada dasarnya mereka adalah anak – anak biasa namun karena berbagai factor akhirnya mereka menjadi buruh atau tenaga kerja di suatu industri. Contohnya karena ekonomi yang lemah, timbulnya rasa jenuh, dipaksa orang tua dan lain – lain. Oleh karena itu, Negara haruslah berkewajiban memelihara anak – anak, memberikan pendidikan yang layak seperti yang tercantum dalam UUD 1945. tentunya hal ini haruslah didukung dari berbagai pihak agar menekan jumlah pekerja anak yang mudah – mudahan suatu saat akan hilang.

  33. Maulana M
    No. Reg. 5215079469
    Peranan orang tua sangat dibutuhkan untuk masa depan si-anak terutama pendidikan yang sangat membantu untuk perkembangan si anak dan bisa berkembang dan bergaul dengan sesamanya, memang sekarang ini banyak pendidikan untuk anak kurang di karenakan faktor ekonomi yang kurang mencukupi dan akibatnya anak usia dini yang menjadi korban untuk mencari nafkah bagi keluarganya walaupun belum cukup umur si-anak untuk bekerja, peran masyarakat dan pemerintah sangat dibutuhkan untuk pendidikan yang sekarang ini walaupun pemerintah sudah memberikan pendidikan Gratis dan Beasiswa bagi siswa yang berprestasi, tapi nyatanya disekolah masih ada saja pungutan-pungutan yang tak jelas tujuannya dan masih banyak saja anak-anak yang bekerja di bawah umur dan disinilah peran orang tua sangat penting untuk memberikan arahan kepada si-anak.

  34. Maulana M
    No. Reg. 5215079469
    Peranan orang tua sangat dibutuhkan untuk masa depan si-anak terutama pendidikan yang sangat membantu untuk perkembangan si anak dan bisa berkembang dan bergaul dengan sesamanya, memang sekarang ini banyak pendidikan untuk anak kurang di karenakan faktor ekonomi yang kurang mencukupi dan akibatnya anak usia dini yang menjadi korban untuk mencari nafkah bagi keluarganya walaupun belum cukup umur si-anak untuk bekerja, peran masyarakat dan pemerintah sangat dibutuhkan untuk pendidikan yang sekarang ini walaupun pemerintah sudah memberikan pendidikan Gratis dan Beasiswa bagi siswa yang berprestasi, tapi nyatanya disekolah masih ada saja pungutan-pungutan yang tak jelas tujuannya dan masih banyak saja anak-anak yang bekerja di bawah umur dan disinilah peran orang tua sangat penting untuk memberikan arahan kepada si-anak.

  35. Kondisi di atas semestinya menjadi justifikasi bagi Pemerintah untuk mengambil langkah-langkah khusus (affirmative action) untuk menangani permasalahan ini. Namun yang terjadi, politik hak asasi manusia Pemerintah tidak ditujukan untuk memajukan dan memenuhi hak asasi anak. Realita yang terjadi justru Pemerintah mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang tidak berpihak pada upaya pemenuhan hak anak atas pendidikan dan perlindungan anak dari tindakan eksploitasi

  36. menurut saya mempekerjakan anak kecil atau anak dibawah umur itu tidak masalah selama masih wajar dan menurut undang-undang yang berlaku. sebaiknya anak tersebut tetap mendapatkan pemenuhan hak pendidikan,ekonomi sekaligus sosialnya dengan baik. tetapi anak-anak tersebut biasanya dalam kondisi keadaan keuangan keluarga kurang mampu yang menyebabkan mereka tidak melanjutkan pendidikannya, memilih untuk membantu keuangan keluarganya ketimbang melanjutkan pendidikannya. mungkin ini perlu ditanamkan kasadaran pada dirinya betapa penting pendidikan dalam kehidupannya. sebagai orang tua sebaiknya membimbing anak-anaknya agar dapat memperoleh hak pendidikan yang selayaknya…

  37. anggraEni_e07(5115072382)

    saya sangat tidak setuju dengan diperbolehkannya anak2 dibawah 18 tahun untuk bekerja meskipun itu juga mendapat izin dari orang tua dan maksimal bekerja selama 3 jam, karena sama saj hal tersebut dapat mengekang hak2 anak dalam mendapatkan pendidikan dan merasakan indahnya hidup menjadi anak2. khususnya di negara Indonesia ini sudah terlalu banyak anak2 yang terlantar pendidikannya hanya karena alasan ingin membantu orang tua mereka dalam memenuhi ekonomi keluarga. padahal bisa saja anak2 tersebut tetap bekerja tetapi bukan bekerja diluar rumah melainkan bekerja membantu orang tua mereka di dalam rumah. sehingga terjadi keseimbangan antara kewajiban membantu orangtua dan hak mereka sebagai anak dapat terlaksana.amin…

  38. wiwin kurniati E07

    Kebanyakan anak-anak pedesaan yang berusia 14 tahun lebih memilih pekerjaan dibandingkan dengan pendidikannya. Mereka berfikiran bahwa lebih penting pekerjaan karena mereka beranggapan dengan bekerja kita mendapatkan uang sedangkan jika kita memilih bersekolah bukannya kita mendapatkan uang malah kita mengeluarkan biaya untuk membeli buku tulis, sepatu, tas, seragam serta buku pelajaran.Tetapi ada juga anak yang terpaksa bekerja karena mereka tidak mampu untuk sekolah dan dengan bekerja mereka dapat membantu ekonomi keluarganya.sebaiknya para orang tua supaya tidak memperbolehkan anaknya bekerja,karena anak-anak yang masih berumur 9-15 tahun masih memerlukan pendidikan, bermain, dan masih banyak lagi yang mereka inginkan. Tetapi pada kenyataannya banyak orang tua yang memaksa anaknya untuk bekerja seperi menjual suaranya(menyanyi) di bus-bus. Orang tua yang seperti itulah yang tidak bertanggung jawab, bukannya orang tuanya yang bernyanyi malah anknya yang disuruh kerja, mungkin orang tua yang seperti itu beranggapan bahwa jika anaknya yang bernyanyi maka banyak yang akan memberinya karena merasa kasihan.

  39. verraseli_5115072394

    Pendidikan merupakan hak bagi setiap anak-anak Indonesia. Bahkan pemerintah telah mencanangkan program wajib belajar 9 tahun. Tapi pada kenyataannya program pemerintah itu belum dapat terealisasi di seluruh wilayah Indonesia. Banyak anak-anak Indonesia yang tinggal di pedesaan dan berhenti sekolahnya dengan alasan bekerja. Bahkan ada beberapa anak di perkotaan yang berhenti sekolah dan bekerja sebagai pengamen, pengemis dll karena di suruh oleh orangtuanya. Biasanya anak-anak yang lebih memilih bekerja itu berasal dari keluarga yang kurang mampu sehingga mereka harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Sangat disayangkan sekali hal seperti ini terjadi di Indonesia, padahal di dalam UUD 45 pasal 31 dan UU No 20 tahun 2003 telah jelas dinyatakan bahwa pendidikan adalah hak bagi setiap anak Indonesia. Oleh karena itu perlunya diadakan sosialisasi UU ketenagakerjaan No 13 thn 2003 (anak-anak boleh bekerja maksimal 3 jam perhari dengan syarat mendapat izin orang tuanya) kepada semua pihak. Saya berharap pemerintah ,LSM, lembaga pendidikan, komnas perlindungan anak memperhatikan hal ini agar jangan ada lagi anak-anak Indonesia yang berhenti sekolah karena harus bekerja.

  40. Hanto Sujatmiko_T.Elektro_5115072374

    Menanggapi masalah tersebut, saya sangat tidak setuju dengan mempekerjakan anak dibawah umur, karena pada masa-masa itu seharusnya anak berhak mendapat pendidikan alias bersekolah, seperti yang di jelaskan dalam undang-undang dan Sistem Pendidikan yang ada di Indonesia. Saya sangat kecewa kepada pihak-pihak atau kelompok yang suka mempekerjakan anak dibawah umur, kalau bisa dihukum sesuai dengan hukum yang berlaku di Negara kita. Walaupun anak dibawah umur tersebut tidak bisa sekolah karena tidak mempunyai biaya, seharusnya pemerintah dan masyarakat tanggap terhadap permasalahan ini dan mencari jalan keluarnya agar mereka bisa menganyam pendidikan, jangan sampai mereka bekerja di bawah umur, dan mungkin saja mereka tidak mampu untuk melakukan pekerjaan itu. Kalau bisa pemerintah membentuk suatu lembaga perlindungan terhadap anak yang mempunyai masalah ini, supaya mempekerjakan anak dibawah umur tidak terulang kembali.

  41. salam hangat untuk para pemerhati pendidikan anak, kita banyak tertarik dengan program2 anda.. go ahead!!

  42. jayani ahmad (5115072381)

    Bicara hak pekerja anak, adalah berbicara secara menyeluruh tentang hak anak di dunia ini. Namun sangat disayangkan hak yang seharusnya terpenuhi, terabaikan begitu saja, bahkan sama sekali sulit terpenuhi, akibat dari kemiskinan yang ada. Kiranya saat ini kita tidak akan menyesalkan hal tersebut, jikalau saja realisasi janji pemerintah kepada rakyat, yang juga telah di resapi dalam-dalam oleh warganya, yaitu fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh negara, Bisa di dilakukan dengan baik. Kenyataan yang bisa sama-sama kita akui adalah, tidak adanya kesesuaian antara realita di lapangan dengan janji pemerintah tersebut. Masih banyak potret anak-anak miskin kota yang harus memaksa dirinya keluar dari kemiskinan, tanpa melihat bahaya disekitarnya Untuk penghidupan yang layak, dalam usia yang masih dini. Dimana usia tersebut masih sangat membutuhkan perlindungan. Kenyataan mereka harus menjadi pekerja adalah kenyataan pahit di dalam Satu Negara yang dikatakan makmur. Untuk kembali meluruskan pola pikir kita tentang, tanggungjawab sesama warga, agar lebih memperhatikan anak-anak bangsa di Negara ini, perlu kiranya kita sebagai masyarakat Indonesia harus memilki kepeduliaan yang secara bersama-sama bukan hanya di lemparkan tanggungan pada lembaga pemerintah , LSM, dan para aktivis social saja namun Melainkan individu sebagai masyarakat yang statusnya sebagai makhluk social lebih terkonsentrasi dalam hal pemeliharaan anak-anak di Indonesia.

  43. arief neiriza_elektro_5115072377

    memperkejakan anak di bawah umur sama saja mengambil hak anak – anak untuk bermain dan belajar. esuai dengan UUD yang telah di sebutkan.”anak – anak boleh bekerja tetapi harus mendapatkan izin dari orang tua dan tidak boleh lebih dari 3 jam.tetapi itu semua hanya sekedar tulisan. pada kenyataannya banyak orang- orang memperkejakan anak – anak di bawah umur tanpa melihat ketentuan – ketentuan dari pemerintah. sebaiknya di berikan penyuluhan ke semua instansi atau badan yang mempekerjakan anak – anak di bawah umur untuk tidak menggunakan tenaga anak – anak itu lagi. jika masih melanggar harus di berikan sanksi yang cukup keras oleh pemerintah. dan komnas perlindungan anak sebaiknya memperluas pengawasanya terhadap problem – problem yang di hadapi oleh anak – anak di indonesia sehingga tidak ada lagi adanya exploitasi terhadap anak di bawah umur.

  44. Muhammad Zikri Alim Lubis_5115072396

    Bangsa Indonesia memang bangsa yang terus mengembangkan dirinya ke arah kemajuan, menuju dimensi yang positif. Saya sependapat dengan artikel yang disajikan ini bahwa penyadaran semua unit sosial masyarakat hal yang terpenting bagi proses pendidikan terutama bagi anak-anak di bawah umur yang harus bekerja karena kebutuhan ekonomi. Jika kita hanya menuntut “mereka-mereka” yang secara konstitusi wajib memenuhi kebutuhan pendidikan bagi semua warga negara, kita tidak akan bisa menatap perubahan yang berarti, perbaikan positif terhadap “dunia yang kecil” (individu) ini. Memulai dari memperbaiki diri kita, kemudian dari hal-hal kecil seperti memberikan pengetahuan/keterampilan yang kita miliki kepada anak-anak kecil di sekitar kita yang dilihat perlu mendapat keterbukaan wawasan.
    Ada anak kecil berkata:“Dua hari yang lalu dia berkata 3 + 4 = 7, kemarin dia berkata 2 + 5 =7, hari ini berkata 1 + 6 = 7, bukankah semua itu semua tidak benar??”. Dari penggalan analogi ini bisa menggambarkan salah satu pandangan dari permasalahan pendidikan pekerja anak yang membawa kita ke arah suatu pemikiran yang disebut “Teori Kebenaran”, bahwa tidak semua manusia mempunyai persyaratan yang sama terhadap apa yang dianggapnya benar, termasuk anak kecil tadi yang dengan pikiran kekanak-kanakannya mempunyai kebenaran tersendiri.

  45. Saiful_5115072384

    masalah pekerja anak merupakan suatu masalah yang cukup serius dan memang serba salah. Di satu sisi sangat tidak dibenarkan adanya anak-anak di bawah umur bekerja atau dipekerjakan dengan paksaan, di sisi lain memang karena permasalahan hidup yang dialami, misalnya himpitan ekonomi yang memaksa anak-anak bekerja sebagai akibat ketidakmampuan orang tua bekeja mencari nafkah. Mereka ingin membantu perekonomian keluarga mereka.

    Namun walaupun demikian, mempekerjakan anak di bawah umur yang sudah ditetapkan, yakni 18 tahun sangatlah tidak dibenarkan. Itu sama saja mengekang dan mengambil hak-hak mereka sebagai anak. Anak akan kehilangan hak-haknya, hak untuk mendapatkan pendidikan yang layak, hak untuk bermain seperti layaknya anak yang lain hingga hak untuk mendapatkan perlindungan dan penghidupan yang layak. Kalaupun sampai anak harus membantu orang tua mereka, tidak boleh sampai menghilangkan hak-hak mereka tadi karena salah satu kewajiban anak adalah membantu orang tua mereka.

    Untuk itu, negara dan pemerintah harus turun tangan dalam menanggapi permasalahan ini. Harus bisa menjaga dan memenuhi hak-hak mereka, melindungi mereka seperti yang tercantum dalam UUD 1945. Hal ini tentunya harus didukung oleh pihak-pihak lain selain pemerintah, misalnya lembaga-lembaga swadaya masyarakat terutema kita sebagai warga masyarakat yang lebih dekat dengan kehidupan mereka. Dengan demikian, eksploitasi terhadap anak-anak dapat dikurang dan bahkan tidak terjadi lagi sehingga hak-hak anak dapat terlindungi dan terlaksana.

  46. Fenomena pekerja anak menjadi masalah yang muncul sebagai akibat negatif dari Industrialisasi. Energi sosial yang seharusnya digunakan untuk melakukan tugas perkembangan dari anak tersebut “diinvestasikan” secara paksa oleh realisme ekonomi keluarga. Anak dijadikan faktor ekonomi yang menunjang keberlangsungan keluarga agar mereka dapat hidup dengan mencukupi kebutuhan dasarnya. Apabila dikaitkan dengan Hak Asasi Manusia, perbuatan tersebut jelas melanggar Hak anak untuk dapat hidup sebagaimana anak-anak pada umumnya, menikmati masa-masa bermain dan mandapatkan perhatian yang labih dari orangtua nya. Dari sisi orang tua sebagai sarana sosialisasi anak yang terpenting, anak di sosialisasikan untuk berperilaku sesuai dengan keinginan orang tuanya tersebut—berdasarkan tingkatan pencapaian uang yang didapat dari pekerjaannya. Ini dapat dibuktukan bahwa kasih sayang orang tua menjadi terbatas pada perilaku-perilaku ekonomis dimana anak-anak tersebut hanya mendapatkan kasih sayang apabila mereka mendapatkan uang yang banyak dari pekerjaannya. Jadi, kasih sayang orangtua direduksi menjadi ukuran pencapaian pendapatan sang anak atau dapat dikatakan terjadi mekanisme determinasi ekonomi terhadap perilaku orang tua sebagai balasan atas pencapaian ekonomi anak. Anak juga kurang mendapat perhatian dari orang tua dikarenakan orangtua lebih memberikan fokus perhatian terhadap pekerjaannya sendiri untuk mencari uang. Dengan mekanisme hubungan ini—secara global, pekerja anak yang merupakan kelompok sub-sistem dari sistem masyarakat yang tidak dapat sejalan dengan nilai-nilai yang terdapat dalam masyarakat…

  47. Sugeng Hartanto_5115072395

    Menurut pendapat saya, pendidikan bagi mereka penting untuk diberikan walaupun keterbatasan biaya menjadi akar permasalahannya.Biasanya anak-anak yang lebih memilih bekerja itu berasal dari keluarga yang kurang mampu sehingga mereka harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Anak-anak yang bekerja membantu orang tua memeng baik , namun haruslah disesuaikan umur dan mendapat upah yang sebanding dengan apa yang mereka kerjakan. Namun anak-anak boleh dipekerjakan dengan syarat mendapat izin orang tua, karena bila terjadi hal-hal yang tidak kita inginkan dapat dipertanggungjawabkan oleh orang tua mereka. Terlepas dari hal tersebut pendidikan harus tetap menjadi no satu dan tudak boleh mendahulukan pekerjaan.

  48. Johan Paramita (5115072379)

    1.anak sebagai penerus bangsa harus dan wajib mendapatkan pendidikan yang layak dan sesuai dengan kebutuhan pendidikan,anak-anak jangan sampai kehilangan masa depannya karma hanya keterbatasan ekonomi,wajar saja lah dizaman krisis eprti ini banyak anak-anak yang bekerja paruh waktu atau bahkan bekerja full seharian untuk membantu ekonomi keluarga tetapi,orang tua atau pendidik harus bisa mengarahakan kepada anak untuk mau belajar dan bersekolah,pemerintah juga harus bisa mengatasi masalah ini misalnya dngan memberikan beasiswa kepada anak-anka yang kurang mampu,memberikan fasilitas yang mudah dijangkau serta pengusaha tidak mengeksploitasi hak anak.

  49. Anak-anak yang merupakan calon generasi bangsa merupakan aset yang sangat utama bagi kemajuan bangsa di masa mendatang. Tapi bila kita lihat, memang masih banyak anak-anak tersebut yang tidak bersekolah, bahkan bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Ini sangat tidak sesuai dengan hukum dan peraturan-peraturan yang seharusnya melindungi hak-hak anak tersebut. Mungkin hal utama yang menyebabkan hal tersebut adalah hal ekonomi. Namun, tetap saja orang tua yang baik tidak semestinya membiarkan anak-anaknya ikut turun tangan bekerja. Karena tugas mereka sebenarnya adalah untuk belajar, guna memajukan kehidupannya di masa mendatang, dan memajukan bangsanya di masa depan…

  50. Fajar B. Zm (5115072380) Elektro '07

    Suatu kondisi yang sangat sulit, ketidakmampuan ekonomi dan kurangmya kesadaran tentang betapa pentingnya pendidikan merupakan factor utama terabaikanya pemenuhan hak pendidikan anak, terutama pekerja anak. Bagi para pekerja anak pendidikan adalah sesuatu yang mahal dan sulit, sehingga mereka merasa tidak bersalah jika tidak bersekolah. Hal ini yang menyebabkan munculnya filosofi bagi para pekerja anak bahwa “lebih baik bekerja mencari uang daripada bersekolah membuang uang dan membikin pusing”.
    Pemenuhan hak pendidikan para pekerja anak memang keadaan yang harus diperhatikan. Bagaiman tidak, masa depan bangsa ini ada ditangan mereka jika para penerusnya saja tidak terpenuhi hak pendidikanya, bagaimana bangsa ini bisa maju?
    Telah cukup banyak diuraikan dalam artikel diatas hal-hal mengenai masalah ini, memang perlunya kepedulian kita terhadap kondisi ini. Selain itu perlunya tanggap aktif dari pemerintah mengenai permasalahan ini, pemerintah harus peduli dan mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang tegas tentang pendidikan bagi para pekerja anak. Pemerintah dan masyarakat harus aktif dalam memantau permasalahan ini. Karena para pekerja anak sudah tidak peduli lagi terhadap pendidikan mereka maka kita sebagai pihak yang mempunyai kelebihan dibandingkan mereka harus menyadarkan bahwa pendidikan itu adalah penting, bekerja juga penting tapi pendidikan jauh lebih penting. Selain itu kita juga harus memfasilitasi mereka, melindungi hak-hak mereka, memperjuangkan hak-hak mereka, memfasilitasi mereka dalam memenuhi hak mereka, dan mengawasi jalanya prosesnya, maka bukan tidak mungkin bahwa hak pendidikan bagi para pekerja anak akan terpenuhi 100%. Dengan terjalinya hubungan yang baik antara pihak yang mempekerjakan anak, pemerintah dan masyarakat dalam pemenuhan pendidikan bagi para pekerja anak maka di harapkan akan munculnya suatu paradigma baru bagi pendidikan pekerja anak, diharapkan pekerja anak mau bersekolah lagi dan tidak menganggap bahwa pendidikan itu mahal dan menyulitkan. Namun pendidikan itu lebih berguna dan tentu lebih menyenangkan.

  51. Achmad Maulana TE07 [5115072372]

    Menjamurnya para pekerja anak di indonesia terjadi karena keadaan yang memaksa mereka kerja demi mendapatkan uang untuk kelangsungan hidupnya.Karena kemiskinan dan kebodohan yang menyababkan para orang tua tidak bisa mencukupi kebutuhan anak termasuk pendidikan anak. Para pekerja anak atau anak-anak jalanan seharusnya mendapat perhatian khusus dari pemerintah sesuai dengan pasal 34 yang berbunyi ” Fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh Negara”. Pemerintah seharusnya lebih tegas lagi dalam menangani masalah anak-anak jalanan dan bisa memaksimalkan kinerjanya dalam hal ini, agar tenaga mereka tidak dieksploitasi lagi. padahal pemenuhan hak anak pun sudah diatur dalam UU yang dibuat pemerintah. Pemerintah seharusnya dapat memfasilitasi pendidikan mereka, agar generasi – generasi penerus bangsa ini menjadi generasi-generasi yang cerdas dan membangun negeri ini kearah yang lebih baik.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s