Pendidikan Anak Korban Konflik di Aceh

 

Sebagai manusia yang belum memahami secara batiniah apa yang terjadi di sekitarnya anak-anak cenderung akan mengikuti apa yang lingkungan berikan kepada mereka. Seandainya lingkungan mendukung mereka untuk melakukan hal-hal positif anak-anak akan berbuat positif. Namun sebaliknya jika mereka mendapat perlakuan negatif dari lingkungannya maka kesan-kesan negatif dalam dirinya timbul terhadap situasi sekitar mereka.

Anak-anak di manapun mereka berada memang sangat tergantung sekali pada keadaan lingkungan di mana mereka menghabiskan hari-harinya. Tidak peduli apakah mereka anak korban konflik yang akrab dengan letusan senjata, anak-anak di lingkungan kumuh yang hidungnya sudah kebal dengan bau busuk sampah sekitar ataupun anak gedongan yang cuma bisa menghabiskan hari libur piknik ke Singapore. Belum lagi ucapan-ucapan yang mereka dengar sehari-hari, sedikit demi sedikit membentuk watak dan di kemudian hari mereka pun cenderung mengucapkan kalimat-kalimat yang sama dengan yang mereka dengar di masa kecil. Jadi sangat penting untuk menempatkan anak-anak pada situasi yang positif, yang penuh semangat dan bernuansa saling membantu. Begitu juga dengan anak korban konflik.

Walaupun mereka anak korban konflik, apakah ayah mereka dibunuh, rumah dibakar, kakak-kakaknya dipukuli di depan mata, namun pada hakekatnya mereka anak kecil yang masih dapat dibentuk atau dengan kata lain masih dapat diisi. Konon lagi jika mereka saat konflik masih berada dalam kandungan alias belum dilahirkan. Beberapa kasus ditemukan anak-anak korban konflik yang tidak sempat melihat ayahnya karena kepala keluarga tersebut dibunuh dalam konflik. Bagaimana dengan mereka ini? Apakah mereka akan dendam terhadap pembunuh ayahnya? Ataukah mereka biasa-biasa saja tumbuh besar tidak ada beda dengan anak-anak lain? Mungkin saja terhadap anak-anak korban konflik tanpa ayah ini perlu ada perlakuan khusus. Namun tampaknya tidak semua orang beranggapan seperti ini.

Beberapa orang tua yang ditemui beranggapan tidak ada masalah dengan anak-anak korban konflik. Secara kasat mata perilaku mereka sehari-hari tidak berbeda dengan anak-anak lainnya. Mereka bermain bersama, sekolah bersama serta mempunyai hak-kewajiban yang sama di keluarga dan masyarakat. Seperti yang disampaikan oleh Sekdes Desa Riseh Tunong, sebuah desa di kecamatan Aceh Utara yang dahulunya merupakan daerah konflik. Beliau menganggap anak-anak belum tahu apa-apa. “Anak-anak tidak ada yang dendam, trauma. Apalagi mereka masih kecil-kecil, belum tahu apa-apa. Buktinya sekarang banyak anak korban DOM yang diangkat menjadi PNS, menandakan mereka tidak trauma.”

Memang dari sisi perilaku, beberapa anak korban konflik tidak mempunyai perbedaan yang kentara dari anak-anak lain. Mereka juga bermain bersama dengan teman-teman yang lain. Namun anak-anak korban konflik yang umumnya kehilangan ayah sebagai kepala keluarga keadaan ekonominya lebih memprihatinkan. Terlebih anak-anak yang pergi sekolah yang tentu saja butuh seragam, buku tulis dan berbagai peralatan lainnya. Situasi ekonomi keluarga kentara sekali tampak dalam penampilan anak-anak sekolah. Guru-guru di sekolah dasar Negeri Blang Pante Kecamatan Paya Bakong, Aceh Utara, ketika ditanya tentang kondisi anak korban konflik memberikan tanggapan. “Mungkin dari segi seragam sekolah yang berbeda, pakaian mereka terlihat lebih kumuh karena kondisi ekonomi yang tidak memungkinkan untuk membeli yang baru”.

Namun di waktu-waktu tertentu anak-anak dari daerah konflik akan memberikan sebuah ciri khas berdasarkan keadaan lingkungan mereka semasa konflik. Misalnya dalam pelajaran menggambar mereka cenderung menggambar benda-benda yang dulu lazim berada di sekitar mereka. Seorang guru keterampilan sekolah dasar menyampaikan fakta yang ditemuinya saat memberikan pelajaran menggambar di kelas. “Sesekali mereka ada menggambar panser. Namun sikap peninggalan dari masa konflik masih ada pada anak-anak. Jika mendengar suara meletus, ban bocor misalnya, mereka akan merunduk dengan seketika persis kalau mendengar bunyi bom saat konflik dulu”.

Lain lagi bagi anak-anak korban konflik yang mendapat pendidikan di pesantren, mereka mendapat pendidikan lain yang tidak didapati di sekolah umum yaitu pendidikan akhlak (pelajaran budi pekerti). Pelajaran akhlak perlahan-lahan dapat membantu anak-anak menghilangkan rasa dendam di hati, ikhlas terhadap keadaan. Pesantren memberikan pelajaran agama yang terpadu, menyeluruh dan menciptakan sistem yang menciptakan murid-murid patuh kepada tengku-tengku (guru) mereka. Saiful, 10 tahun, anak korban konflik yang tidak sempat melihat ayahnya menuturkan pengalamannya menimba ilmu di Pesantren Al Hidayah Blang Teue, Aceh Utara. Dengan suara lugu namun jelas terdengar ia mengatakan “Guru mengaji di sini mengajarkan untuk tidak dendam kepada orang-orang yang telah mengambil ayah saya. Namun saya masih ada rasa sedikit marah karena mereka telah membunuh ayah saya”

Teman Saiful yang lain yaitu Bakhtiar, 10 tahun, menceritakan bagaimana ayahnya diambil oleh aparat keamanan pada tahun 1999, menurut ibunya dan orang-orang kampong. Saat itu ia masih dalam kandungan ibunya. Beberapa lama kemudian jasad ayahnya ditemukan di suatu tempat yang jauh dari kampong asalnya, hanya tinggal tengkoraknya. “Saya tidak pernah melihat wajah ayah, bahkan foto KTP nya sekalipun belum pernah lihat” katanya dengan tabah. Mereka berdua sama-sama belum pernah melihat ayahnya, namun mereka berdua telah diajarkan untuk tidak dendam terhadap pelaku pembunuhan ayahnya. Tidak mudah memang, namun dengan pelajaran dari guru-gurunya, suasana positif dari pesantren tempat mereka tinggal, perlahan-lahan dendam itu diredam.

Bagaimanapun, anak-anak korban konflik semua mempunya alasan yang sangat kuat untuk suatu saat melakukan tindakan balasan atas kekejaman yang menimpa keluarganya. Bentuknya bisa saja berbeda-beda, apakah itu melakukan perlawanan secara politik, secara bersenjata ataupun melalui tindakan-tindakan sporadis. Untuk itu potensi-potensi tersebut harus diredam seminimal mungkin melalui program yang ditujukan kepada mereka yang bersifat berkelanjutan. Kemudian lagi jangan sampai komunikasi terhadap mereka korban konflik putus. Jangan sampai mereka merasa diabaikan sebagai anak negeri, terlebih mereka banyak tinggal di daerah pedalaman.

Tgk Subki, Seorang guru Pesantren di Rayeuk Kuta kecamatan Tanah Luas, sebuah daerah pedalaman di Aceh Utara memberikan pendapatnya tentang hal ini “Saya melihat tidak ada sikap untuk balas dendam dalam diri mereka. Mungkin jika mereka besar nanti, jika ada yang memprovokasi bisa jadi mereka akan balas dendam. Pemerintah jangan putus komunikasi dengan mereka supaya mereka tidak terisolir dari masyarakat. Komunikasi mulai dari tingkat desa. Jika anak-anak korban konflik terprovokasi, mereka bisa meledak, bagaikan bom waktu. Jika mereka mendapatkan beasiswa hingga dapat sekolah hingga perguruan tinggi, mereka akan mendapatkan wawasan yang luas”.

Yang dimaksud di atas tadi tentulah bantuan yang bersifat fisik dan pemberian bantuan biaya sekolah. Ada satu penanganan lain yaitu penanganan trauma anak. Penanganan trauma anak-anak korban konflik berbeda dengan anak-anak trauma tsunami. Trauma konflik lebih sulit ditangani dan membutuhkan waktu yang lama. Ini bisa dipahami mengingat anak-anak berada di tengah situasi konflik dalam waktu yang lama pula dan membekas begitu dalam di hati mereka.

Mengulang apa yang dikatakan oleh seorang guru pesantren bahwa anak-anak korban konflik akan menjadi bom waktu jika tidak ditangani secara tepat dan berkelanjutan. Mereka melihat langsung konflik, merasakan langsung pahitnya kehilangan ayah atau keluarga tercinta. Akibat konflik mereka merasakan kepahitan hidup yang berkepanjangan. Siapakah yang mereka harapkan untuk bisa membantu meringankan beban hidup mereka selain pemerintah? Bukankah sudah menjadi tugas pemerintah untuk menyantuni anak yatim dan fakir miskin, sesuai dengan pernyataan dalam UUD 1945, yang dibacakan setiap peringatan 17 Agustus di halaman sekolah.

Konon lagi Aceh kini bergelimang dengan rupiah, bahkan kabar cerita mengatakan orang-orang terhormat di dalam gedung-gedung ber-AC sulit menghabiskan. Ditambah lagi dengan banyaknya NGO, khususnya yang bergerak di bidang advokasi anak hadir di kota Serambi Mekkah. Sudah selayaknya anak-anak korban konflik ini mendapat bantuan, tidak ada yang harus cemburu.

Anak-anak merupakan kertas putih, para orang tua lah yang harus mengisinya. Hitamkah mereka, putihkah mereka atau abu-abukah mereka nanti kelak ketika dewasa. Kita, para orang tua yang harus membantu mereka agar mereka bisa menjadi mandiri, tanpa dendam, bersih bagaikan kertas putih.

Sumber: M. Nizar (www.wikimu.com)

Iklan

49 responses to “Pendidikan Anak Korban Konflik di Aceh

  1. Jaka Mulyadi PNR Elektronika 07 (5215077524)

    Aceh, adalah salah satu daerah di Indonesia yang pernah mengalami sebuah masa dimana terjadi konflik berkepanjangan. Banyak akibat yang ditimbulkan dari konflik tersebut, salah satunya mengakibatkan trauma pada anak-anak. Dalam hal ini anak-anak yang orang tuanya telah ditangkap, disiksa bahkan di bunuh.
    Pendidikan bagi anak-anak tersebut seharusnya bisa lebih diperhatikan, karena jika tidak mereka akan menjadi orang yang gampang dihasut dan dimanfaatkan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab, sehingga masa depan mereka akan gelap dan suram. Selain itu jika mereka mendapat bimbingan, maka bukan tidak mungkin kelak mereka akan menjadi generasi pemberontak yang memiliki rasa dendam yang sangat kuat.
    Oleh karena itu sudah kewajiban bagi khususnya pemerintah untuk memeberikan pendidikan dan perhatian yang lebih bagi anak-anak tersebut.

  2. YUDHA DHARMAWAN

    5215077539
    PNR ELEKTRONIKA 07 UNJ

    Dalam menghilangkan trauma daerah konflik memang sulit namun ada beberapa upaya dalam menguranginya.diantaranya yaitu memberikan mereka hiburan dan motivasi.contohnya dengan bermain bersama mereka dengan permainan yan dapat meningkatkan kreatifitas,ketrampilan mereka dan melupakan sejenak trauma yg mereka alami.walaupun membutuhkan waktu yg lama untuk menghilangkan trauma akibat konflik cara yang efektif adalah memberikan mereka ketrampilan atau kursus yg brmamfaat.dan memberikan mereka aktifitas yg dpt menyita waktu sehingga dpt melupakan trauma mereka atau dengan memberikan mereka suasana baru yang damai,tenang.kita sbgai mhluk sosial jangan hanya mengandalkan pemerintah…selain itu tugas berperan serta dalam membantu menciptakan suasana aman dan kondusif dalam lingkungan mereka melalui aparat yg berwenang sehingga konflik tdk trulang…

  3. niwan PNR elka 07 5215077537

    Nasib anak korban akibat konflik di aceh sangat memprihatikan , hal itu benar anak korban konflik harus mendapatkan perlakuan khusus , karena mereka melihat langsung kejadian yang ada di daerahnya. Misalnya kehilangan orang tua yang amat dicintai, keadaan lingkungan yang tidak aman akan membuat si anak trauma.Anak-anak adalah generasi penerus bangsa, jangan sampai kejaduian ini memetahkan semangat dan cita-cita mereka (khususnya anak korban konflik di Aceh). Hal itu menjadi tanggung jawab pemerintah dan peran serta masyarakat. Bantuan yang di terima pemerintah daerah harus di gunakan sebaik-baiknya untuk mengatasi konflik, dan terutama memfasilitasi anak korban konflik. Jangan sampai dana bantuan malah di korupsi oleh pejabat setempat.

  4. yudha dharmawan
    pnr elektronika 07 unj
    5215077539

    memulihkan mental dan mengembalikan semangat anak anak korban konflik Daerah operasi militer di aceh memang agak sulit.masalahnya trauma yang di akibatkan konflik dapat mengganggu mental dan kondisi psikologis anak tersebut.sebagai contoh seorang anak siswa SD yang kehilangan orang tuanya akibat konflik yang menyebabkan ortunya meningggal.bisa mengganggu keadaan psikologisnya juga pertumbuhanya dan perkembangan terganggu karna biasanya anak tersebut kehilanggan pedoman hidup dan motifasinya.oleh karna itu semua pihak harus turut serta dalam pemulihan kondisi psikologis anak tersebut.diantaranya dengan memberikan hiburan berupa permainan yang dapat menunjang kreatifitasnya juga ketrampilannya .selain itu juga dapat membantu menghilangkan traumanya sejenak .salah satu upaya yang dapat dilakukan yaitu dengan memberikan ilmu pengetahuan melalui cerita atau permainan yang dapat menggantikan pendidikan formal di sekolah sekolah…………

  5. Nama : Ramadani Arifin
    No Reg : 5215 08 5055
    Program : Non regular

    Komentar tentang “Pendidikan Anak Korban Konflik”

    Menurut saya, sudah sepantasnya pemerintah, masyarakat dan tenaga pendidik melakukan terapi perbekalan agama yang sempurna. Yang menjadikan obat mujarab bagi obat hati anak korban konflik di aceh. Dengan metode ikhlas, mudah-mudahan anak korban konflik di aceh menjadi tegar dalam menghadapi ujian yang berat dan berkepanjangan . memang, berprilaku ikhlas tidak semudah di ucapkan dengan lidah dan di tulis dengan sebuah pena. Tapi dengan cara latihan yang berkesinambungan, mudah-mudahan mempunyai sifat ikhlas. Lalu pemerintah dan peran serta masyarakatlah yang mendukung kestabialan emosi anak korban konflik. Dan sebaiknya juga, pemerintah menegakkan kebenaran dan keadilan terhadap orang yang salah terhadap anak korban konflik. Lalu menghukum seberat-beratnya agar anak korban konflik aceh tidak melakukan balas dendam di kemudian hari. Dan berikan kemudahan pada kehidupan masa depannya, untuk mendapatkan pekerjaan yang layak dan di berikan jaminan selama hidupnya. Lalu, masyarakat tidak memprovokasi kembali memori yang buruk pada anak korban aceh. Agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

  6. Eko budiono PNR Elektronika 07 ( 5215077520)

    Setelah saya membaca artikel diatas bisa di ambil kesimpulan bahwa ank korban konflik memang perlu perhatian yang lebih dikarenakan kondisi psikis mereka berbeda dengan anak-anak lainnya, itu semua disebabkan karena mereka mengalami peristiwa-peristiwa suram, misalkan saat ayahnya meninggal karena tertembak atau saat melihat kedua orang tua mereka mati didepan matanya sendiri, hal ini tentu akan sangat membekas dipikiran mereka dan akhirnya membuat mereka sering melamun, menyendiri serta tidak suka bergaul dengan teman-teman sebayanya. Memang konflik di Aceh sudah bisa dikatakan tidak ada akan tetapi meresa masih tetap merasakan sisa-sisa bayangan suram masa konflik di Aceh saat dulu, hal ini tentunya akan berpengaruh pada anak-anak tersebut baik dalam kegiatan belejar maupun di kehidupan mereka di masa yang akan datang oleh sebab itu diperlukannya pendidikan yang mengkhususkan untuk anak korban konflik tersebut aga mereka bisa terpisah dari bayang-bayang masa lalunya yang suram serta agar mereka secara perlahanbisa melupakaningatan-ingatan suram di kepalanya guna untuk menyongsong hidup di masa depan tanpa bayang-bayang akan konflik di masa lalunya itu.

  7. Eko budiono PNR Elektronika 07 ( 5215077520)

    Setelah saya membaca artikel diatas bisa di ambil kesimpulan bahwa ank korban konflik memang perlu perhatian yang lebih dikarenakan kondisi psikis mereka berbeda dengan anak-anak lainnya, itu semua disebabkan karena mereka mengalami peristiwa-peristiwa suram, misalkan saat ayahnya meninggal karena tertembak atau saat melihat kedua orang tua mereka mati didepan matanya sendiri, hal ini tentu akan sangat membekas dipikiran mereka dan akhirnya membuat mereka sering melamun, menyendiri serta tidak suka bergaul dengan teman-teman sebayanya. Memang konflik di Aceh sudah bisa dikatakan tidak ada akan tetapi meresa masih tetap merasakan sisa-sisa bayangan suram masa konflik di Aceh saat dulu, hal ini tentunya akan berpengaruh pada anak-anak tersebut baik dalam kegiatan belejar maupun di kehidupan mereka di masa yang akan datang oleh sebab itu diperlukannya pendidikan yang mengkhususkan untuk anak korban konflik tersebut aga mereka bisa terpisah dari bayang-bayang masa lalunya yang suram serta agar mereka secara perlahan bisa melupakaningatan-ingatan suram di kepalanya guna untuk menyongsong hidup di masa depan tanpa bayang-bayang akan konflik di masa lalunya itu.

  8. Redi hermawan
    5215077541
    PNR Teknik Elektronika

    Konflik sosial yang terjadi di beberapa tempat di Indonesia telah menyebabkan penderitaan bagi rakyat, tak terkecuali anak-anak. Anak-anak korban konflik seringkali harus melihat bahkan mengalami secara langsung segala macam bentuk kekerasan akibat perang. Kejadian itu akan tersimpan selamanya dalam benak mereka. Yang lebih menyedihkan, mereka harus berpisah dengan orang tua mereka untuk mengungsi ke daerah yang lebih aman bagi mereka.Pelajaran akhlak perlahan-lahan dapat membantu anak-anak menghilangkan rasa dendam di hati, dan ikhlas terhadap keadaan.Anak-anak merupakan kertas putih, para orang tua lah yang harus mengisinya.
    jadi jaga dan lindungi anak-anak karena mereka adalah generasi penerus kita.

  9. Nama : Wawan sari
    No.reg : 5215077534
    PNR S1 Elektronika 07

    Menurut saya, pemerintah seharusnya lebih memperhatikan nasib dari anak-anak korban konflik. Dengan tidak mengabaikan pemberian santunan pada keluarga yang anak-anaknya meninggal dunia dalam konflik, prioritas tetap harus diberikan pada anak-anak korban konflik yang masih hidup. Mereka harus memperoleh bantuan dan pendampingan untuk memperbaiki kondisi mereka saat ini dan menata kembali masa depan mereka. Hal ini menjadi tanggung jawab utama Badan Reintegrasi damai aceh (BRA). Karena hal ini merupakan pekerjaan yang besar BRA harus bekerja sama dan berkoordinasi dengan sejumlah instansi pemerintah terkait seperti dinas sosial, dinas pendidikan, PBB, internasional NGO,NGO lokal, serta lembaga-lembaga masyarakat yang memang bergerak dibidang pendidikan anak seperti dayak dan madrasah.

    Langkah-langkah yang harus dilakukan:
    1) Pendataan anak korban konflik seperti anak-anak yang terluka dan cacat akibat konflik kemudian yang kehilangan orangtua.
    2) Langkah kedua adalah dengan pemberian bantuan kepada anak-anak korban konflik yang terluka dan cacat. Berupa pengobatan dan pembelian alat untuk mengatasi kecacatan. Serta yang terpenting berupa pembinaan bagi mereka yang cacat agar dapat mengembangkan potensi yang ada dalam dirinya.
    3) Penghapusan spp untuk semua jenjang pendidikan dan pemberian beasiswa perbulan bagi anak yatim/piatu.
    4) Pemberian vocational training bagi anak-anak di atas 15 tahun yang putus sekolah dan tidak berniat melanjutkan sekolah.
    5) Pemberian layanan trauma konseling bagi anak-anak korban konflik.

  10. Haris Triyono PNR elka 07 ( 5215077522)

    Sungguh memperihatinkan’ akibat konflik diaceh mengakibatkan proses pendidikan di aceh menjadi sangat memperihatinkan dan anak-anaklah yang menjadi korban akibat konflik tersebut, karena orang tua dari anak-anak tersebut tewas akibat konflik tersebut, sehingga sosok ayah yang mencari uang untuk menafkai keluarga tersebut tidak akan pernah ada lagi. Lalu bagaimanakan upaya pemerintah untuk mengatasi semua permasalah tersebut, bukankah anak-anak terlantar berhak atas pengajaran, seperti yang tuangkan dalam UUD 1945 yang isinya menyantuni anak yatim dan fakir miskin.
    Sekali lagi peran para orang-orang yang berkelebihan harta, masih banyak orang-orang yang tidak mampu yang membutuhkan uluran tangan.

  11. Danu purwanto PNR Elektronika 07 (5215077529)

    anak anak memang terlahir bagai kertas putih, tetapi bukan hanya orang tua saja yang mengisinya, melainkan juga lingkungan dimana anak itu tumbuh dewasa, jika lingkungannya baik maka dia tumbuh akan jadi anak yang baik-baik, namun sebaliknya jika dia tumbuh di lingkungan yang buruk, keras maka dia akan tumbuh sesuai watak lingkungannya. Konflik yang terjadi di Aceh menurut saya kisah itu akan meninggalkan bekas luka yang amat dalam hatinya, meskipun kejadian itu terjadi saat dia masih kanak-kanak, tapi ingatan itu akan ia bawa sampai ia besar nanti. salah satu cara yang terbaik adalah ciptakan kembali rasa damai aman dan tentram untuk para anak-anak, dan juga berikan pendidikan psikologi untuk dapat mengetahui kejiwaan sang anak serta dapat menyembuhkan rasa sakit anak tersebut.

  12. Giyanto (5215077523) elka 07

    Setelah saya membaca artikel diatas bisa di ambil kesimpulan bahwa ank korban konflik memang perlu perhatian yang lebih dikarenakan kondisi psikis mereka berbeda dengan anak-anak lainnya, itu semua disebabkan karena mereka mengalami peristiwa-peristiwa suram, misalkan saat ayahnya meninggal karena tertembak atau saat melihat kedua orang tua mereka mati didepan matanya sendiri, hal ini tentu akan sangat membekas dipikiran mereka dan akhirnya membuat mereka sering melamun, menyendiri serta tidak suka bergaul dengan teman-teman sebayanya. Memang konflik di Aceh sudah bisa dikatakan tidak ada akan tetapi meresa masih tetap merasakan sisa-sisa bayangan suram masa konflik di Aceh saat dulu, hal ini tentunya aknberpengaruh pada anak-anak tersebut baik dalam kegiatan belejar maupun di kehidupan mereka di masa yang akan datang oleh sebab itu diperlukannya pendidikan yang mengkhususkan untuk anak korban konflik tersebut aga mereka bisa terpisah dari bayang-bayang masaq lalunya yang suram serta agar mereka secara perlahanbisa melupakaningatan-ingatan suram di kepalanya guna untukmenyongsong hidup di masa depan tanpa bayang-bayang akan konflik di masa lalunya itu.

  13. aditya triantoro PNR Elektronika 07 (5215077538)

    Asslammualaikum Wr. Wb.
    Menurut pendapat saya, sebaiknya anak-anak korban konflik harus diberi arahan dengan memberikan pendidikan dan menjalin komunikasi dengan baik, serta lingkungan yang positif. Ini dilakukan agar anak-anak korban konflik tidak mengalami trauma yang mereka alami untuk balas dendam jika ada yang mempengaruhi mereka.Untuk itulah, sebaiknya pemerintah daerah tersebut memberikan bantuan kepada anak-anak korban konflik berupa pendidikan dan menjalin komunikasi dengan baik. Karena dengan memberikan bantuan kepada anak-anak korban konflik dan menjalani komunikasi yang baik,maka anak-anak korban konflik tidak balas dendam terhadap peristiwa yang dialaminya
    jika ada yang mempengaruhi mereka.
    Wassalammualaikum Wr. Wb.

  14. Anak-anak selalu menjadi korban utama dalam konflik politik maupun bencana alam. Dunia pendidikan kita, yang dalam keadaan normal masih carut marut jika dilihat dari sudut manajerial, kini kian kacau dan tidak tahu lagi harus berbuat apa saat menghadapi krisis dan darurat akibat bencana.
    Situasi pendidikan di Aceh mengalami penderitaan ganda. Pertama, sistem pendidikan lumpuh karena konflik politik dan kekerasan bersenjata mengorbankan warga sipil dan anak-anak. Kedua, krisis karena bencana alam yang menghancurkan sarana pendidikan menciptakan situasi traumatis-psikologis akibat kematian orang-orang tercinta.

  15. Ade setiawan PNR Elektronika 07(52150775470

    Keterlibatan anak dalam konflik pada dasarnya telah mengambil hak anak untuk memperoleh kebahagiaan,kesenangan dan tentunya pendidikan mereka. Konflik yang terjadi di Aceh memang banyak sekali menimbulkan korban jiwa,banyak dari anak yang kehilangan keluarga mereka dan teman-teman mereka. Tetapi sayangnya banyak anak yang tidak diperhatikan setelah konflik itu selesai.Dan disinilah sudah saatnya kita fokuskan perhatian kita pada anak korban konflik ini. Dalam hal ini tanggung jawab utama untuk menangani anak-anak tersebut sudah menjadi tanggung jawab pemerintah. Anak-anak ini sudah selayaknya mendapatkan hak mereka untuk hidup tentram dan damai dan tentunya untuk memperoleh pendidikan yang sama dengan anak-anak lainya.

  16. Fitri Rahayu 5215077535 PNR ELKA 07

    Situasi pendidikan di Aceh mengalami penderitaan ganda. Pertama, sistem pendidikan lumpuh karena konflik politik dan kekerasan bersenjata mengorbankan warga sipil dan anak-anak. Kedua, krisis karena bencana alam yang menghancurkan sarana pendidikan menciptakan situasi traumatis-psikologis akibat kematian orang-orang tercinta.
    Penderitaan ganda ini mewajibkan berbagai pihak untuk menilai kembali posisi konfliktual yang mereka hadapi dalam kerangka mencari langkah-langkah penyelesaian konflik yang menjunjung tinggi kemanusiaan. Merupakan sebuah tanggung jawab moral bagi setiap pihak untuk pertama-tama menghentikan perang. Konflik bersenjata antara TNI dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) sudah semestinya dihentikan mengingat beberapa bantuan kemanusiaan tidak sampai sasaran karena transportasi masih terputus, maupun ancaman konflik bersenjata yang bisa berlangsung kapan saja. Melanjutkan operasi militer bagi kedua pihak yang berkonflik dalam situasi darurat seperti sekarang hanya menunjukkan tidak adanya kepekaan atas kesediaan untuk menghargai martabat kemanusiaan.
    Kedua, berhadapan dengan luluh lantaknya sistem pendidikan di Aceh dan daerah lain yang diterjang tsunami, pemerintah bekerja sama dengan LSM- LSM, baik internasional maupun nasional, mesti segera memikirkan kelangsungan pendidikan, terutama bagi anak- anak dengan memerhatikan dimensi psikologis yang mereka alami. Dalam hal ini, menyiapkan para guru yang dibekali pengetahuan psikologis untuk mengenali situasi kejiwaan anak-anak yang menjadi korban merupakan sebuah kemendesakan.
    Membangun kembali prasarana dan sarana pendidikan pascabencana di satu sisi memberi semacam keuntungan berupa kesempatan membangun kembali sistem pendidikan yang menghindari kelemahan dan kesalahan di masa lalu, menciptakan sistem pendidikan yang menghargai harkat kemanusiaan, menciptakan solidaritas dan harmoni yang memecah akar- akar konflik politik. Demikian juga merupakan sebuah kesempatan untuk merekonseptualisasi kurikulum dan metode dalam kerangka jangka panjang berdasar kebutuhan nyata siswa, termasuk memperkuat sistem formasi pengajar dengan memberi berbagai macam pelatihan yang dibutuhkan.
    Memberi beasiswa bagi pelajar korban atau memindahkan mereka ke sekolah lain merupakan usaha yang patut dihargai, tetapi tetap bukan perwujudan adanya rasa krisis (sense of crisis) dan penghargaan bagi siswa yang menjadi korban bencana, mengingat situasi psikologis yang mereka alami begitu traumatis di mana program pendidikan nasional yang diterapkan dalam situasi normal amat jauh dari apa yang mereka butuhkan. Program pendidikan nasional tidak dapat diterapkan dalam situasi pendidikan darurat seperti terjadi di Aceh dan daerah bencana lain. Inilah yang harus diingat dan diperhatikan sebelum mengambil langkah-langkah penyelamatan atas kelangsungan pendidikan anak-anak korban bencana.
    Tanggapan terhadap situasi pendidikan darurat sering fragmentaris karena adanya berbagai macam kesulitan di lapangan maupun dalam kerangka pemberian kewenangan. Untuk kasus Aceh, sudah semestinya pemerintah membuka akses sebesar-sebesarnya bagi lembaga internasional, seperti Unesco, agar mereka mampu bekerja sama dengan LSM-LSM lokal maupun nasional dalam membangun kembali dunia pendidikan di Aceh.
    Sementara itu, sudah merupakan conditio sine qua non untuk mengatasi kendala yang bersifat politis, terlebih dalam menghentikan konflik bersenjata, membangun jalur dialog antara pihak pemerintah dan kelompok bersenjata di Aceh untuk menghentikan perang, dan turun tangan secara bersama-sama dalam menciptakan masa depan yang lebih baik yang menghormati kemartabatan sesama manusia.

  17. FATHURACHMAN PNR Teknik Elektronika 2007

    Keterlibatan anak dalam konflik telah mencabut anak dari hak sejatinya untuk memperoleh masa kecil yang bahagia, pendidikan dan kehidupan yang layak. Konflik telah menimbulkan korban jiwa atau cacat pada anak. Konflik telah mengakibatkan anak kehilangan orang tua dan sanak keluarga lainnya. Konflik telah menimbulkan trauma yang mengganggu perkembangan psikologis anak. Konflik sangat mungkin akan mengakibatkan anak kehilangan masa depannya.
    untuk mencegahnya Sudah saatnya pemerintah fokus ke arah pada penanganan anak korban konflik. Dengan tidak mengabaikan pemberian santunan pada keluarga yang anak-anaknya meninggal dunia dalam konflik, prioritas tetap harus diberikan untuk anak-anak korban konflik yang masih hidup. Mereka harus memperoleh bantuan dan pendampingan untuk memperbaiki kondisi mereka saat ini dan menata kembali masa depan mereka.

  18. Asep Syaefudin PNR S1 ELKA 07 (5215077531)

    Pendidikan sangat sulit didapat oleh anak – anak korban langsung/tidak langsung dari konflik karena banyak diantara mereka sudah sulit untuk mengakses sekolah, masih dalam keadaan trauma, program Pendidikan Alternatif sangat tidak membantu proses perbaikan mental anak malah menimbulkan masalah baru di tingkat anak (beban belajar bertambah.kini masyarakat semakin tidak percaya dengan dengan upaya penyelesaian konflik yang dilakukan karena ketidak-seriusan dan tidak konsistennya pemerintah dalam upaya penyelesaian konflik,Banyak orang sudah putus asa, bingung dan trauma terhadap situasi dan kondisi di Ambon ditambah dengan ketidakjelasan proses penyelesaian konflik serta ketegangan yang terjadi saat ini.

  19. Yulianto pnr (5215077536)

    Konflik yang terjadi di Aceh yang tak kunjung reda begitu banyak menelan korban.Mereka yang kehilangn harta, benda dan tempat tinggal, bahkan tidak sedikit anak-anak kehilangan orang tua.Bagaimana dengan nasib si anak tersebut, Oleh karena itu pemerintah diharapkan mampu mengatasi masalah tersebut, terutama anak-anak korban konflik supaya tetap dapat memperoleh pendidikan seperti anak-anak yang lain.

  20. windy (5215070253)

    Menurut saya, sebaiknya anak-anak korban konflik lebih dibina dari segi agamanya, agar mereka tidak ada dendam dihati. Pemerintah juga harus berupaya untuk membuat anak-anak tersebut hilang dari traumanya.

  21. Lingga Trihasta S PNR ELEKTRONIKA 07 (5215077546)

    Assalamualaikum

    Sangat disayangkan sekali mengapa setiap ada konflik di berbagai belahan dunia mengapa selalu melibatkan anak-anak dan warga sipil yang tidak mengetahui apa-apa,jangan terlalu melihat jauh keluar contoh dinegara kita saja masih banyak konflik yang melibatkan anak-anak dan warga sipil khususnya yang sedang kita bahas sekarang konflik yang terjadi di daerah Nangroe Aceh Darussalam.mengapa harus anak-anak yang dijadikan korbannya bahkan bisa dikatakan konflik ini telah manengambil secara langsung hak anak-anak khususnya dalam mendapatkan pendidikan tidak sewajarnya ini haruslah berlangsung secara terus menerus hal ini memberikan dampak yang sangatlah buruk untuk anak-anak korban konflik.
    sudah cukup banyak anak-anak yang putus sekolah diluar sana mengapa harus kita tambah lagi dengan anak-anak korban konflik.mari kita bahu membahu agar anak-anak tidak dijadikan korban dalam hal apapun kita harus memberikan haknya sebagai warga negara dan hamba tuhan yang patut mendapatkan hak-haknya sebagai mahluk hidup.

  22. Fahmi Amran (5215077528) Pend. Teknik Elektronika 07

    Asslammualaikum Wr.Wb.
    Menurut pendapat saya tentang artikel yang sudah saya baca yaitu sangat memprihatinkan sekali terhadap anak korban konflik yang terjadi di Aceh.Karena itu sebaiknya kita sebagai warga Indonesia ikut membantu anak korban konflik dengan cara memberikan pendidikan dan memberikan akhlak kepada anak korban konflik dengan baik.Ini dilakukan untuk menghindari anak korban konflik dari trauma atas kejadian yang dialaminya dan agar mereka tidak balas dendam terhadap konflik yang pernah dialaminya.

  23. hafis Rizki R (5215077517) PNR Pend. Teknik Elektronika

    Menurut pendapat Saya,

    Pemerintah dan peran serta masyarakat harus mendukung kestabialan emosi anak korban konflik. Dan sebaiknya juga, pemerintah menegakkan kebenaran dan keadilan terhadap orang yang salah terhadap anak korban konflik. Lalu menghukum seberat-beratnya agar anak korban konflik aceh tidak melakukan balas dendam di kemudian hari.

    Kemudian berikan kemudahan pada kehidupan masa depannya, untuk mendapatkan pekerjaan yang layak dan di berikan jaminan selama hidupnya. Lalu, masyarakat tidak memprovokasi kembali memori yang buruk pada anak korban aceh. Agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan seperti yang telah terjadi..

  24. AGUNG PRASETYO RINALDI

    AGUNG PRASETYO RINALDI
    5215077530
    PNRS1 ELEKRTONIKA 07

    Konflik begitu lekat mewarnai kehidupan masyarakat Indonesia, baik di Aceh, Poso, Maluku Utara hingga Ambon. Dampaknya telah menyisakan jiwa-jiwa yang cedera, tercecer, terabaikan dipojok-pojokan Nusantara. Rangkaian konflik dan bencana di Aceh membawa dampak pada kondisi traumatis yang berkepanjangan dan sebagian besar korban adalah anak-anak Aceh. Anak-anak korban perang tak jarang mengalami trauma psikis. Masih teramat banyak anak-anak yatim korban konflik yang masih berceceran, terlunta nasibnya dipojok-pojok, sejagat Nusantara. Masih terlalu banyak yang tak mampu bersekolah, tak mampu membayar SPP. Dan sekolah tidak perduli dan tidak mau tahu dengan kondisi anak yang sudah jelas mereka adalah pengungsi, korban konflik. Keharusan membayar SPP tak bisa dibebaskan, begitu ongkos jalan atau transpot ke sekolah yang mencekak-atau buku buku sekolah.
    Anak-anak yang menjadi korban dalam konflik berhak atas perlindungan khusus. Dalam pasal 62 UU No 23/2002 yang berbunyi:

    ‘Perlindungan khusus bagi anak korban kerusuhan, korban bencana, dan anak dalam situasi konflik bersenjata sebagaimana dimaksud dalam pasal 60 huruf b, huruf c, dan huruf d, dilaksanakan melalui: a. pemenuhan kebutuhan dasar yang terdiri atas pangan, sandang, pemukiman, pendidikan, kesehatan, belajar dan berekreasi, jaminan keamanan, dan persamaan perlakuan; dan b. pemenuhan kebutuhan khusus bagi anak yang menyandang cacat dan anak yang mengalami gangguan psikososial”.

    ” Jadi generasi masa depan macam apakah yang diinginkan oleh negeri ini? Ataukah kita tengah merancang dan mempersiapkan generasi bebal, bodoh dan tertinggal. Hak mereka tidak kita penuhi, kewajiban kita tidak kita laksanakan. Bagaimana kita mengharapkan mereka sebagai generasi tumpuan dan harapan bangsa untuk masa depan untuk mengejar ketertinggalan kita…?”.

  25. AGUNG PRASETYO RINALDI

    AGUNG PRASETYO RINALDI
    5215077530
    PNRS1 ELEKRTONIKA 07

    Konflik begitu lekat mewarnai kehidupan masyarakat Indonesia, baik di Aceh, Poso, Maluku Utara hingga Ambon. Dampaknya telah menyisakan jiwa-jiwa yang cedera, tercecer, terabaikan dipojok-pojokan Nusantara. Rangkaian konflik dan bencana di Aceh membawa dampak pada kondisi traumatis yang berkepanjangan dan sebagian besar korban adalah anak-anak Aceh. Anak-anak korban perang tak jarang mengalami trauma psikis. Masih teramat banyak anak-anak yatim korban konflik yang masih berceceran, terlunta nasibnya dipojok-pojok, sejagat Nusantara. Masih terlalu banyak yang tak mampu bersekolah, tak mampu membayar SPP. Dan sekolah tidak perduli dan tidak mau tahu dengan kondisi anak yang sudah jelas mereka adalah pengungsi, korban konflik. Keharusan membayar SPP tak bisa dibebaskan, begitu ongkos jalan atau transpot ke sekolah yang mencekak-atau buku buku sekolah.
    Anak-anak yang menjadi korban dalam konflik berhak atas perlindungan khusus. Dalam pasal 62 UU No 23/2002 yang berbunyi:

    ‘Perlindungan khusus bagi anak korban kerusuhan, korban bencana, dan anak dalam situasi konflik bersenjata sebagaimana dimaksud dalam pasal 60 huruf b, huruf c, dan huruf d, dilaksanakan melalui: a. pemenuhan kebutuhan dasar yang terdiri atas pangan, sandang, pemukiman, pendidikan, kesehatan, belajar dan berekreasi, jaminan keamanan, dan persamaan perlakuan; dan b. pemenuhan kebutuhan khusus bagi anak yang menyandang cacat dan anak yang mengalami gangguan psikososial”.

    ” Jadi generasi masa depan macam apakah yang diinginkan oleh negeri ini? Ataukah kita tengah merancang dan mempersiapkan generasi bebal, bodoh dan tertinggal. Hak mereka tidak kita penuhi, kewajiban kita tidak kita laksanakan. Bagaimana kita mengharapkan mereka sebagai generasi tumpuan dan harapan bangsa untuk masa depan untuk mengejar ketertinggalan kita…?”.

  26. Kurnia_E07(5215070249)

    Dalam menangani pendidikan anak korban konflik seluruh warga terutama pemerintah memberikan perhatian kepada anak-anak korban konflik dan memberikan pengertian, mereka itu tidak sendiri satu sama lain bersaudara, tidak ada dendam yang ada sekarang hanyalah rasa kasih sayang satu dan yang lainnya. Para orang tua juga harus memberikan perhatian kepada anaknya, jangan hanya karena anak pada saat konflik belum lahir bukan berarti mereka tidak mempunyai trauma sama sekali dan memberikan pengertian yang dapat menjadikan anak tersebut tidak mempunyai dendam terhadap orang lain. Pendidikan yang tepat utuk anak korban konflik adalah pendidikan melalui keagamaan karena bila agama mereka sudah mantap dan sudah semua hilang rasa dendam mereka maka mereka akan menjadi diri yang baik dan mbisa menata diri mereka dengan baik dan tau apa yang harus ditiru dan yang tidak boleh ditiru. Baru berikan pendidikan formal untuk menambah pengetahuan mereka dan membangun daya fikir mereka supaya mereka tidak memiliki pandangan yang salah dan dapat mengerti keadaan yang sebenarnya. Pemerintah seharusnya memberikan beasiswa untuk anak-anak korban konflik dan merangkul mereka dan tidak mengabaikan mereka begitu saja.

  27. Sudah lama berlalu persoalan konflik yang terjadi di Indonesia. Saya pikir sudah cukup bagi kita untuk tidak mengungkit-ungkit karena bagi beberapa orang mungkin dapat mengingatkan kembali saat-saat tragis di daerah konflik tersebut dan diharap untuk masa yang akan datang tidak akan ada terjadi lagi. Sekarang yang kita perhatikan benar adalah anak-anak korban konflik dimana merekalah generasi penerus bangsa ini, apa yang mereka butuhkan tentu sudah pasti no. 1 adalah pendidikan. Supaya kita dapat masuk ke dunia mereka sekarang ini pertama kita bisa lakukan pendekatan pada anak korban konflik yang beberapa masih memiliki trauma, beri arahan, masukan, motivasi mungkin bisa membantu kepercayaan diri mereka. karena cukup sulit untuk memberikan pendidikan bagi mereka yang tidak termotivasi dan masih berada dalam tekanan baik mental psikis dan fisik. Bagian pertama yang perlu kita tanamkan pada jiwa anak didik agar tidak putus harapan, Disinilah peran orang tua, ORMAS, pemerhati pendidikan, aktivis pendidikan dapat ambil bagian, jadi disini bukan hanya mutlak tanggung jawab pemerintah saja,pemerintah pun perlu dukungan dalam menjalankan program-program kerja nya.
    Pembangunan sarana yang menunjang sebagai faktor pendukung adanya pendidikan yang layak bagi mereka. berikan pelayanan pendidikan yang baik bagi mereka karena mereka sangat membutuhkan itu semua.

  28. jan_elektro_5115072376

    Menurut pandangan saya, pendidikan untuk anak korban konflik sangatlah penting, baik itu di sekolah ataupun pesantren. anak korban konflik cenderung sulit untuk melupakan ingatan buruk mereka, karena mereka melihat langsung kejadian tersebut. Sehingga menimbulkan trauma yang mendalam. Oleh karena itu, diperlukan pendidikan untuk mereka agar secara perlahan mereka sadar bahwa semua itu terjadi diluar kuasa mereka. Sehingga tidak akan ada lagi dendam atau trauma yang mendalam di diri mereka.

  29. Pelaksanaan pendidikan bagi anak-anak di daerah konflik atau daerah yang dilanda bencana alam memerlukan kebijakan dan strategi khusus agar tak merugikan siswa, tetapi juga tidak membuat guru sebagai pelaksana pendidikan di lapangan mendapat tekanan dari atasannya.

  30. Permasalahan anak korban aceh perlu benar-benar diperhatikan, karena bila kita dapat lihat sekilas anak-anak tersebut sperti biasanya anak-anak umum bermain, bersekolah, dll. Namun pada kenyataannya tidak demikian benar dengan gejolak psikologi yang mereka terima akibat konflik berkepenjanagn di aceh. Menyaksikan langsung situasi konflik yang begitu tragis telah memaksa memisahkan mereka dengan keluarga ataupun teman mereka. Padahal secara naluriah seorang anak kecil bila menyaksikan sesuatu akan berusaha untuk mencontoh apa yang dilihatnya, tidak peduli itu akan berdampak buruk ataupun baik bagi kehidupannya kelak. Apalagi bila seluruh kejadian-kejadian yang benar-benar tidak menyenangkan baginya itu terekam dalam long memory sehingga membuatnya menjadi trauma, situasi seperti ini sangat berbahaya bagi perkembangan psikis mereka.

  31. anggraEni_e07(5115072382)

    Permasalahan anak korban aceh perlu benar-benar diperhatikan, karena bila kita dapat lihat sekilas anak-anak tersebut sperti biasanya anak-anak umum bermain, bersekolah, dll. Namun pada kenyataannya tidak demikian benar dengan gejolak psikologi yang mereka terima akibat konflik berkepenjanagn di aceh. Menyaksikan langsung situasi konflik yang begitu tragis telah memaksa memisahkan mereka dengan keluarga ataupun teman mereka. Padahal secara naluriah seorang anak kecil bila menyaksikan sesuatu akan berusaha untuk mencontoh apa yang dilihatnya, tidak peduli itu akan berdampak buruk ataupun baik bagi kehidupannya kelak. Apalagi bila seluruh kejadian-kejadian yang benar-benar tidak menyenangkan baginya itu terekam dalam long memory sehingga membuatnya menjadi trauma, situasi seperti ini sangat berbahaya bagi perkembangan psikis mereka…

  32. menurut saya untuk menghilangkan trauma untuk anak-anak korban konflik lebih memfokuskan pendidikan pada bidang akhlak seperti pendidikan dipesantren karena lebih memfokuskan pada membantu anak-anak menghilangkan rasa dendam di hati, ikhlas terhadap keadaan.sehingga dengan sendirinya dendam dan trauma akan konflik tersebut menghilang, sehungga anak-anak tersebut dapat menjalankan hidupnya dengan tenang tanpa goncangan psikologinya.

  33. wiwin kurniati E07

    saya setuju dengan pendidikan anak korban konflik. sebaiknya anak korban konflik mendapatkan pendidikan yang positif karena anak tersebut bagaikan kertas kosong yang masih belum tahu apa-apa, jika lingkungannya memberitahukan bagaimana ayahnya meninggal dan anak tersebut diajarkan untuk membalas dendan kepada orang yang telah membunuh ayahnya maka anak tersebut seperti kertas yang sudah tercoret oleh tinta, dan rasa dendam tersebut akan teringat oleh anak itu dan akhirnya anak tersebut menjadi jahat. Sebaliknya jika anak tersebut dibesarkan oleh lingkungan yang baik maka anak tersebut tidak akan menjadi anak yang pendendam.

  34. rinda _E07(5115072383)

    menurut saya sangat bagus untuk memberikan pendidikan untuk anak-anak korban konflik. walaupun memulihkan mental dan mengembalikan semangat anak anak korban konflik Daerah operasi militer di aceh memang agak sulit. masalahnya trauma yang di akibatkan konflik dapat mengganggu mental dan kondisi psikologis anak tersebut. dengan menciptakan sistem pendidikan yang dapat meghilangkan bayang-bayang trauma tersebut dengan menghargai kemanusiaan dan menciptakan solidaritas untuk menghapus ingatannya terhadap konflik tersebut. untuk itu diharapkan orang tua anank-anak tersebut dapat membantu keadaan anak-anaknya…

  35. Konflik yang terjadi di sebuah daerah, tentunya mempengaruhi masyarakat daerah tersebut. Tak terkecuali anak – anak yang merupakan bagian dari masyarakat. Anak – anak yang tumbuh dan berkembang di daerah konflik tentunya akan mengalami perkembangan mental yang berbeda dengan anak – anak pada umumnya. Tentunya hal ini harus mendapat perhatian dan tindak lanjut. Anak – anak tersebut harus diberi pendidikan yang lebih menekankan kepada pendidikan mental mereka, karena biasaanya konflik terjadi dalam waktu yang cukup lama. Salah satu contohnya berupa pendekatan kepada nilai – nilai agama misalnya : ” Segala sesuatunya di dunia ini telah ada yang mengaturnya. Hidup & mati, kaya & miskin merupakan hal – hal harus kita terima dengan hati yang ikhlas “. “Karena dibalik semua kesulitan yang terjadi pasti ada kebaikan yang besar”. Agar kelak anak korban konflik ini mampu mengobati trauma mereka. Dan tubuh & berkembang seperti anak-anak lain pada umumnya.

  36. verraseli_5115072394

    Anak-anak ibarat kertas putih yang bersih, bila mereka terbiasa melihat kekerasan dan kejahatan dari sejak kecil maka kemungkinan jika mereka telah dewasa mereka akan melakukan hal yang serupa ketika mereka terprovokasi oleh suatu hal. Seharusnya anak-anak yang berada dilingkungan rawan konflik mendapat perlindungan dari orang tuanya serta dari pemerintah setempat. Jika terjadi konflik di suatu daerah, anak-anak hendaknya diungsikan ke tempat yang lebih aman sehingga mereka tetap dapat belajar dan bermain. Sekolah-sekolah yang berada di daerah rawan konflik hendaknya memberikan pendidikan moral yang baik kepada siswanya sehingga mereka nantinya tumbuh menjadi anak-anak yang berbudi pekerti luhur dan berakhlak baik.

  37. Hanto Sujatmiko_T.Elektro_5115072374

    Mendengar kutipan artikel di atas, sedih dan pilu rasanya jika yang mereka alami terjadi pada diri kita. Betapa tidak, mereka yang berada di daerah rawan konflik harus berusaha menyelamatkan diri dan anak-anaknya dari serangan pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. Tidak jarang anak-anak yang berada di kawasan ini, kehilangan bapak atau ibunya, karena dibunuh atau diculik oleh pihak yang tidak bertanggung jawab tersebut, sehingga mereka berstatus yatim dan piatu. Dengan status yang mereka miliki, mereka tidak bisa sekolah atau melanjutkan sekolah, karena tidak ada yang membiayainya. Pendidikan merupakan hak setiap manusia, walaupun keadaan mereka demikian, tidak mengurangi semangat mereka untuk tetap bersekolah. Seharusnya pemerintah lebih memikirkan masalah ini, agar mereka bisa mengenyam pendidikan seperti yang dialami oleh para siswa lain pada umumnya, sehingga tidak ada kesenjangan diantara mereka.

  38. arief neiriza_elektro_5115072377

    Anak – anak itu bagaikan kertas putih yang kosong dan bersih, hanya orang – orang di sekitarnyalah yang dapat memberikan coretan – coretan sehingga anak tersebut mengikuti coretan yang baik atau coretan yang buruk pada dewasa nanti. Dan cara untuk memasukkan anak – anak ke pesantren merupakan salah satu cara yang bagus untuk meminimalis anak – anak tersebut berlaku hal yang negatif pasca konflik. Pemberian beasiswa hal yang sebaiknya di lakukan oleh pemerintah daerah dan pusat sehingga anak tersebut dapat bersekolah sampai tinggi sehingga anak mempunyai wawasan yang luas sehingga anak itu dapat melupakan kenangan – kenangan buruk pada saat konflik. Dan perbaikan psikologi dapat di terapkan ke pada anak tersebut sehingga anak tersebut dapat merehabilitasi psikologi dalam dirinya agar dapat melupakan konflik itu dan berfikir lebih inofatif.

  39. Muhammad Zikri Alim Lubis_5115072396

    Anak-anak korban konflik cenderung bersifat sangat introvert, tidak banyak bicara, suka merenung dan mendapat energi dari menyendiri serta tertarik pada pengalaman yang mendalam. Saya setuju sekali dengan artikel ini jika tidak mendapat perhatian pendidikan yang khusus, mereka bisa menjadi “bom waktu” yang sewaktu-waktu dapat menjadi bumerang bagi siapa saja yang mereka anggap melakukan kesalahan kepada mereka.
    Hanya berdasarkan kebiasaan saja maka
    Manis itu manis
    Panas itu panas
    Dingin itu dingin
    Warna itu warna
    Dari analogi ini kita mendapatkan sebuah pemikiran bahwa terminologi yang kita berikan kepada gejala yang kita tangkap melalui pancaindera, rangsangan pancaindera ini akan dilanjutkan ke otak dan menghadirakan gejala tersebut. Banyak berkomunikasi secara baik dan terarah kepada anak-anak seperti ini akan membawa cakrawala wawasan mereka ke arah lebih konstruktif.

  40. Keterlibatan anak dalam konflik telah mencabut anak dari hak sejatinya untuk memperoleh masa kecil yang bahagia, pendidikan dan kehidupan yang layak. Konflik telah menimbulkan korban jiwa atau cacat pada anak. Konflik telah mengakibatkan anak kehilangan orang tua dan sanak keluarga lainnya. Konflik telah menimbulkan trauma yang mengganggu perkembangan psikologis anak. Konflik sangat mungkin akan mengakibatkan anak kehilangan masa depannya.
    Sayangnya, paska konflik seringkali anak menjadi elemen masyarakat yang kurang diperhatikan nasibnya seperti di Aceh Sekedar refleksi untuk kita, beberapa pertanyaan perlu diajukan. Sudah seberapa besar perhatian kita pada anak-anak korban konflik?. Sudahkah dilakukan pendataan terhadap anak-anak yang cacat karena konflik?. Sudahkah dilakukan pendataan terhadap anak-anak yang jadi yatim/yatim piatu karena konflik?. Pertanyaan selanjutnya, sudah seberapa besar bantuan fisik dan psikis diberikan terhadap anak-anak korban konflik?

  41. Sugeng Hartanto_5115072395

    Menurut pendapat saya, setiap anak korban konflik tentu harus dikembalikan dulu kekuatan mental mereka yang terguncang dengan berbagai kekerasan yang terjadi. Semua ini hendaknya menjadi program bersama tidak hanya pemerintah saja karena bila hanya mengandalkan pemerintah tentu hasilnya tidak akan merata. Keluarga korban konflik biasanya mempunyai masalah dengan ekonomi. Pemerintah dapat membantu dengan memberikan beasiswa agar mereka dapat terus melanjutkan pendidikannya.

  42. Johan Paramita (5115072379)

    perlu perhatian dan strategi jitu unutk memulihkan mental anak-anak konflik di aceh agar mereka mau belajar kembali hal ini memang tidak mudah dilakukan seperti membalikkan telapak tangan pemerintah melalui instansi terkait memang harus bertugas untuk mendidik dan menanamkan sifat lapang dada,serta mehilangkan sikap dendam yang sudah tertanam pada anak-anak korban konflik.

  43. Saiful_5115072384

    sangat kasihan dan memprihatinkan bagi anak-anak yang tinggal di daerha konflik seperti Aceh. Sehari-hari mendapat tekanan batin dan kekerasan selalu terjadi di depan mata mereka. Sudah menjadi makanan mereka sehari-harinya. Hal ini tentu akan menimbulkan rasa trauma yang sangat mendalam bagi mereka. Ya namanya juga anak-anak, mereka cenderung mengadopsa apa-apa yang berada dilingkungannya. Mungkin mereka akan tumbuh menjadi orang yang keras dan pendendam. Untuk itu, peran pemerintah serta kita mungkin juga bagi orang-orang yang lebih dekat dengan mereka sangatlah diperlukan. Pendidikan kepada mereka harus tetap diberikan agar mreka tetap tumbuh seperti anak yang normal. Mungkin lebih ditekankan kepada pembinaan mental dan spiritual mereka agar trauma mereka dapat hilang dan mereka sadar bahwa yang terjadi sudah merupakan takdir dari yang kuasa. Selain itu pendidikan seperti ini juga dimaksudkan agar tidak tumbuh rasa dendam di hati mereka.

  44. jayani ahmad (5115072381)

    Menurut Saya sudah cukup bagi kita untuk mengetahui konflik yang mungkin dapat mengingatkan kembali saat-saat tragis di daerah konflik tersebut dan diharap untuk masa yang akan datang tidak akan ada terjadi lagi. Sekarang yang kita perhatikan benar adalah anak-anak korban konflik dimana merekalah generasi penerus bangsa ini, apa yang mereka butuhkan tentu saja adalah pendidikan. Karena pendidikan sangat berarti bagi manusia yang sangat berarti pada pola pikir manusia, Supaya kita dapat masuk ke dunia mereka sekarang ini pertama kita bisa lakukan pendekatan pada anak korban konflik yang beberapa masih memiliki trauma, beri arahan, masukan, motivasi mungkin bisa membantu kepercayaan diri mereka. karena cukup sulit untuk memberikan pendidikan bagi mereka yang tidak termotivasi dan masih berada dalam tekanan baik mental psikis dan fisik untuk membenahi persoalan seperti itu maka bukan hanya peran pemerintah saja melainkan berbagai peran penting seperti aktivis, pemerhati pendidikan,dan lain sebagainya.
    Jadikan semua kejadian – kejadian yang berlalu sebagai sudut pandang lampau saja dan jalankan saja yang ada pada diri kita namun ambil hikmah yang baik sebagai patokan hidup seperti pendidikan, karena pendidikan adalah ilmu pengetahuan yang tiada habisnya.

  45. Bagaimana pun juga, yang namanya perang pasti akan sangat merugikan. Dan kerugian tersebut, pasti akan melanda di berbagai bidang. Tidak hanya ekonomi, politik, sosial, bahkan juga pendidikan. Padahal anak-anak tersebut tidak ikut terlibat, bahkan mereka tidak tahu apa yang sedang terjadi. Seharusnya semua manusia bisa saling menjaga dan mengingatkan. Tidak ada perang yang membawa keunutungan. Jauh lebih baik bila kita bisa hidup dengan damai, dan lebih memanfaatkan waktu dan tenaga kita guna memperbaiki bangsa ini dan memperhatikan anak-anak kita dalam menyiapkan kehidupan kita di masa mendatang. Karena keegoisan pasti membawa petaka…

  46. Fajar B. Zm (5115072380) Elektro '07

    Konflik memang suatu keadaan yang tidak diharapkan, andai saja semua orang berfikir jernih dan menyadari betapa tersiksanya keadaan konflik pasti keadaan akan baik-baik saja. Tak terkecuali bagi anak-anak, dunia mereka pastilah terancam dengan adanya konflik. Tidak hanya keamanan mereka, tetapi keluarga dan diri mereka pun dalam keadaan terancam. Masa kanak-kanak yang seharusnya di isi dengan dunia bermain, belajar dan berkreasi terenggut dengan adanya konflik. Dan tentu saja dunia belajar mereka, anak-anak seharusnya belajar dalam suasana yang mendukung, aman, dan menyenangkan bagi mereka agar mereka dapat memaksimalkan kemampuan yang ada pada diri mereka. Namun jika dalam keadaan konflik, maka semua yang seharusnya dimaksimalkan akan terabaikan. Tak terkecuali pendidikan bagi anak korban konflik di Aceh,.
    Konflik yang berkepanjangan di bumi serambi mekah itu telah meluluh lantakan masa depan anak-anak di Aceh. Bagaimana tidak, keadaan yang darurat dan keluarga yang tidak bisa hidup dengan tenang memaksa mereka untuk selalu siaga dan mengenyampingkan apa yang seharusnya mereka dapatkan. Pendidikan mereka terabaikan, dunia bermain mereka terenggut, dan tentu saja masa depan mereka yang tidak tahu arah. Oleh karena itu, pendidikan bagi anak korban konflik di aceh harus segera dibangun sedemikan rupa agar masa depan anak-anak aceh dapat tercapai sesuai dengan apa yang mereka impikan. Selain itu pendidikan tersebut untuk membangun mental dan jiwa merka yang selama ini terbelenggu dengan adanya konflik. Dan akhirnya terwujudnya apa yang menjadi hak mereka, dan tercapainya apa yang mereka impikan.
    Satu hal yang harus diperhatikan dalam pemenuhan pendidikan bagi anak korban konflik di aceh adalah pendidikan tersebut harus dibangun sedini mungkin dan sebaik mungkin. Bila perlu pemerintah membentuk badan khuhus yang menangani pendidikan bagi anak korban konflik. Karena mental anak korban konflik berbeda dengan anak pada umumnya, mereka harus dibangun dari awal dan di arahkan sedini mungkin untuk mengembangkan apa yang menjadi bakatnya. Sehingga mereka dapat ditampung dalam suatu wadah pendidikan yang berkualitas dan dapat tersalurkan sesuai dengan apa yang mereka inginkan.

  47. Fajarudin 5115072390

    Hal yang harus diperhatikan dengan seksama, karena kondisi anak korban konflik yang masih labil dan rentan dengan banyaknya masalah yang dihadapinya itu. Para pendidik mesti tahu benar apa yang dibutuhkan oleh mereka, khususnya pendekatan secara individu yang dilakukan untuk menstimulus anak untuk tidak trauma dan merasa dendam atas segala yang terjadi. yang segera harus dihilangkan pula rasa takut yang berlebih agar tidak ada kesan bahwa hal itu bisa dan akan terjadi, biar yang lalu biarlah berlalu, tanamkan bahwa anak tersebut masih terus berjuang demi masa depannya kelak, tidak ada keputus asaan apalagi trauma yang berlebih. Ini memang tak mudah tapi pasti dapat dipecahkan dan dilakukan demi masa depan anak-anak korban konflik khususnya di Aceh. Sarana dan sarana yang memadai dan para pengajar yang kompeten dan profesional pun harus menunjang pendidikan disana, itu semua tak dapat tercapai oleh bantuan dari berbagai pihak.

  48. Beberapa kasus ditemukan anak-anak korban konflik yang tidak sempat melihat ayahnya karena kepala keluarga tersebut dibunuh dalam konflik. Bagaimana dengan mereka ini? Apakah mereka akan dendam terhadap pembunuh ayahnya? Ataukah mereka biasa-biasa saja tumbuh besar tidak ada beda dengan anak-anak lain? Mungkin saja terhadap anak-anak korban konflik tanpa ayah ini perlu ada perlakuan khusus. Namun tampaknya tidak semua orang beranggapan seperti ini.

  49. Achmad Maulana TE07 [5115072372]

    Menurur pendapat saya, kondisi ini sangat memperhatinkan bagi anak-anak yang ada di daerah konflik di aceh. Mereka hidup dalam kondisi penuh tekanan dan trauma. Anak –anak seperti ini perlu mendapat perhatian dari kita. Kita atau lingkungan sekitarnyanya harus dapat memberikan motivasi dan bimbingan di bidang akhlak, agar suatu saat nanti si anak yang orang tuanya menjadi korban dari konflik yang berkepangjangan ini tidak menjadi seorang yang pendendam. Pemerintah dan LSM juga harus dapat bekerjasama dalam menangani krisis pendidikan yang ada di daerah konflik di aceh ini, karena ini merupakan hal yang sangat penting bagi calon penerus bangsa yang ada di daerah konflik ini. Kita juga tidak ingikan jika penerus bangsa kita menjadi bodoh karena konflik yang berkepanjangan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s