Category Archives: Pendidikan Anak psk

Anak Jadi Korban Terbesar di Sumut

Kompas.Com Jumat, 26 Desember 2008 | 19:55 WIB

MEDAN, JUMAT – Sepanjang tahun 2008, anak dibawah umur tercatat sebagai korban kasus penganiayaan dan kekerasan seksual terbesar di Sumatera Utara. Data Yayasan Pusaka Indonesia menyebutkan, sepanjang tahun ini terdapat 59 kasus penganiayaan terhadap anak. Sedangkan dari total 239 kasus kekerasan terhadap anak di bawah umur, 53 kasus di antaranya merupakan kekerasan seksual.

Menurut Ketua Badan Pengurus Yayasan Pusaka Indonesia, Edy Ikhsan, jenis kekerasan yang dialami anak di bawah umur sangat bervariasi. Dari mulai kasus perkosaan, sodomi hingga incest. “Pelaku umumnya orang yang memiliki hubungan sangat dengat dengan korban. Ini yang kemudian menjadi semacam fenomena gunung es, karena angka pasti berapa banyak kekerasan, terutama kekerasan seksual terhadap anak tak pernah terungkap,” ujar Edy di Medan, Jumat (26/12).

Dia mengungkapkan, kekerasan seksual terhadap anak yang bermula dari kasus-kasus p erdagangan manusia (trafficking) juga cukup menonjol di Sumut. Latar belakang ekonomi korban selalu menjadi penyebab terbesar munculnya kasus-kasus trafficking pada anak perempuan di bawah umur.

“Sekarang ini mengapa anak terperangkap dalam prostitusi lewat jerat trafficking, lebih banyak disebabkan karena faktor ekonomi. Mereka berasal dari keluarga tidak mampu yang tak bisa menyediakan dana pendidikan atau sekolah bagi anaknya. Di sisi lain ada tawaran menggiurkan, bagi anak untuk mendapatkan income,” katanya.

Namun pengaruh lain seperti media yang menjadi soft culture penerus budaya konsumerisme ke anak perempuan, ikut juga menjadi sebab terjadinya kasus-kasus trafficking. “Harus disadari, soft culture dari media berupa iklan dan sebagainya telah membius anak-anak perempuan sekarang ini berperilaku konsumtif. Mereka terjebak dalam dunia prostitusi karena perilaku konsumtif ini,” katanya.

Menurut Edy, masyarakat juga sering kali tidak memiliki kesadaran bahwa modus pelaku trafficking sebenarnya mengancam di depan mata. Karena ketidaktahuan masyarakat ini, pelaku traffick ing bisa leluasa menjaring korbannya di berbagai pelosok. “Sering kali masyarakat tidak tahu modus-modus pelaku trafficking. Sementara pemerintah yang sebenarnya berperan dalam mensosialisasikan bahaya perdagangan manusia ini, lebih sering ceramah dan seminar di kota. Padahal pelakunya sudah bergentayangan ke pelosok,” katanya.

Data dari Yayasan Pusaka Indonesia juga menyebut Kota Medan menempati urutan pertama banyaknya kasus kekerasan terhadap anak. Dari total 239 kasus kekerasan, 110 kasus di antaranya terjadi di Medan. Pematang Siantar menempati urutan kedua dengan 26 kasus.

Iklan

20 Siswi SMP Jajakan Diri

Kompas.com Sabtu, 27 Desember 2008 | 04:40 WIB

JAKARTA, Sebanyak 20 siswi sebuah SMP negeri di Tambora, Jakarta Barat,
kerap mangkal menunggu pria hidung belang di lokasi prostitusi liar. Para siswi ini nekat terjun ke dunia malam agar memiliki uang dan handphone (HP) model terakhir.

Adanya siswi SMP negeri di Tambora yang menjajakan diri di lokasi prostitusi ini dipergoki oleh guru sekolah bersangkutan. Beberapa waktu lalu, sang guru mengikuti razia wanita pekerja seks komersial
(PSK) di Sunter, Jakarta Utara. Razia ini dilakukan aparat Tramtib Pemprov DKI.

Sang guru terkejut ketika salah satu wanita malam yang terjaring razia adalah anak didiknya yang duduk di kelas dua. Si murid mengaku dirinya telah enam bulan menjajakan diri. Dia juga mengatakan ada 19
rekannya yang juga terjun ke dunia malam dan mangkal di lokasi prostitusi liar Kalijodo di perbatasan Jakarta Barat dan Jakarta Utara atau tak jauh dari sekolah mereka.

Sekjen Komnas Perlindungan Anak Arist Merdeka Sirait menduga para siswi tersebut korban sindikat perdagangan manusia. Mereka dibujuk sedemikian rupa agar mau terjun ke dunia malam. Arist mendesak polisi mengusut tuntas kasus ini.

Punya uang

Berdasarkan pengakuan siswi yang terjaring razia PSK di Sunter, pihak sekolah memanggil 19 siswi yang mangkal di Kalijodo. Para siswi mengaku nekat terjun ke dunia malam karena silau oleh seorang rekan yang nyambi menjadi PSK sehingga memiliki banyak uang dan barang-barang berharga mahal.

Gayung bersambut. Si siswi merangkap PSK tersebut bersedia menyalurkan kawan-kawannya. Dia menghubungi pengelola sebuah warung sekaligus tempat penginapan sederhana di Kalijodo. Tak lama kemudian, hampir tiap malam, ke-19 siswi SMP tersebut mangkal di Kalijodo.

Informasi yang dihimpun Warta Kota menyebutkan, sejauh ini pihak sekolah belum memberikan sanksi terhadap ke-20 siswi itu. Namun, saat pembagian rapor, akhir pekan lalu, orangtua ke-20 siswi tersebut diminta menjaga putrinya lebih ketat. Imbauan serupa juga disampaikan kepada para orangtua murid lainnya.

In, orangtua murid SMP tersebut, mengatakan awalnya dia tidak percaya ada siswi sekolah tersebut yang menjajakan diri di lokasi prostitusi. Setelah bertanya ke sana kemari, In percaya bahwa ada
siswi sekolah tersebut yang menjual diri. “Kami diminta untuk menjaga putri kami agar tidak terjerumus dalam dunia hitam. Sebab sudah ada 20 pelajar yang terjerumus,” katanya, Jumat (26/12).

Geger

Kabar tentang 20 siswi yang nyambi jadi wanita penghibur ini menggegerkan masyarakat yang tinggal di dekat SMP negeri tersebut. AG, warga Jembatanbesi, Tambora, mengatakan bahwa kabar tentang 20 siswi SMP yang menjajakan diri di lokasi pelacuran bukanlah kabar bohong. “Saya tahu dari guru yang ikut dalam razia itu,” katanya, kemarin. AG menambahkan, “Menurut guru tersebut, razia dilakukan di Sunter, Jakarta Utara. Salah satu PSK yang tertangkap adalah siswi sekolah ini.”

Kaum ibu yang tinggal di Jembatanbesi juga membicarakan ulah para siswi tersebut. “Saya tahu ini dari para orangtua murid sekolah itu,” kata Ny Yuli, warga setempat. Yuli mengaku terperanjat ketika
mendengar untuk pertama kali ada siswi SMP negeri di Tambora yang nekat menjadi PSK. “Mereka itu kan masih anak-anak, tapi mengapa bisa sampai demikian,” tuturnya.

Hingga kemarin Warta Kota belum mendapat penjelasan dari pihak sekolah bersangkutan. Kemarin siang, ketika mendatangi sekolah tersebut, Warta Kota tak menjumpai kepala sekolah maupun guru.
“Sekolah libur sampai 4 Januari. Sekolah mulai lagi tanggal 5 Januari,” kata Rika, orangtua murid sekolah itu.

Sementara itu, Kanit Perlindungan Perempuan dan Anak Polrestro Jakarta Barat AKP Sri Lestari mengaku belum mengetahui adanya kasus siswi sebuah SMP di Tambora yang menjajakan diri di Kalijodo maupun Sunter. “Saya prihatin dengan kejadian ini. Saya akan mengecek kebenarannya,” katanya, kemarin.

Kepala Dinas Pendidikan Dasar DKI Sukesti Martono juga mengaku belum mengetahui kasus tersebut. “Saya akan pastikan dulu kebenarannya. Kalau bisa jangan disebarluaskan dulu,” katanya,
kemarin.

Peran orangtua

Sekjen Komnas Perlindungan Anak Arist Merdeka Sirait menduga para siswi sebuah SMP negeri di Tambora tersebut merupakan korban sindikat perdagangan manusia. “Saya menduga ini ada sindikatnya, mereka terus merekrut remaja hingga jumlahnya banyak seperti itu,” ujarnya ketika
dihubungi semalam.

Arist juga mengatakan, dari sisi kejiwaan, remaja sangat labil dan mudah dipengaruhi, termasuk dipengaruhi untuk berbuat di luar norma kesusilaan. Kaum remaja semakin mudah terpengaruh jika diiming-imingi hadiah berupa handphone dan uang. “Mereka itu belum mengerti benar apa
yang mereka lakukan, sehingga keperawanan tidak lebih mahal dari sebuah handphone. Terjadinya situasi ini juga pengaruh konsumerisme di kalangan remaja,” kata Arist.

Menurut Arist, usia remaja bukanlah usia yang harus terbebani dengan problem mendapatkan uang untuk hidup. Namun akibat konsumerisme maupun hedonisme, banyak remaja yang kini termotivasi mendapatkan uang dan barang yang lebih baik dari teman-temannya. Di sisi lain, sang orangtua tidak mau ataupun tidak mampu memenuhi tuntutan gaya hidup anaknya.

Menghadapi anak usia remaja, kata Arist, orangtua harus memberikan perhatian lebih dan mendampingi anaknya dalam menghadapi konsumerisme. Para orangtua juga harus curiga ketika sang anak berubah gaya hidupnya, misalnya pulang malam atau punya banyak uang tanpa asal yang jelas.”Mungkin juga si anak ganti-ganti HP dan tidak lagi meminta uang jajan. Ini harus mendapat perhatian orangtua. Sesibuk apa pun orangtua, harus ada komunikasi dengan anak,” kata Arist. (tos/sab)

Siswi SMK Jual Siswi SMP, Rp 400.000

Kompas.com. Senin, 10 Maret 2008 | 07:37 WIB

SURABAYA, MINGGU –Jaringan perdagangan pelajar SMP untuk konsumsi lelaki hidung belang yang dilakukan NF, 17, siswi sebuah SMK di kawasan Surabaya Utara, diungkap anggota Reskrim Unit Perlindungan dan Perdagangan Anak (PPA) Polwiltabes Surabaya. IN, 15, siswi sebuah SMP di kawasan Surabaya Selatan yang dijual NF seharga Rp 400.000, ditemukan polisi dalam penggerebekan di Hotel Puspa Asri kamar 301 Jl Kenjeran Surbaya.

Ketika ditemukan, IN yang masih kelas III SMP itu dalam keadaan menangis dan masih mengenakan seragam sekolah warna biru dan kaos merah, sedangkan baju putihnya disimpan di dalam tas. Sementara lelaki berusia sekitar 40-an tahun yang ada di kamar tersebut mengaku sama sekali belum menyentuh korban.

Dalam pengakuan lelaki itu, ia mencoba merayu namun IN menolaknya. Tersangka NF juga turut merayu IN agar mau melayani lelaki tersebut. Namun, sebelum aksi mereka berlanjut, tim Reskrim Polwiltabes sudah menggerebeknya. “Saat kami gerebek, korban terlihat sangat ketakutan,” tutur AKBP Dedi Prasetyo, Kasat Reskrim Polwiltabes Surabaya, didampingi Kanit PPA AKP Eusebia Torimtubun, Sabtu (8/3).

Peristiwa penggerebekan itu terjadi Kamis (6/8) lalu. Penyidik kemudian menginterogasi NF di Mapolwiltabes. Ternyata pengakuan gadis yang berdomisili di Banyuurip Kidul itu cukup mengejutkan. Meski usianya masih muda, NF mengaku sudah tiga kali ini menjual pelajar SMP kepada para lelaki hidung belang.

Sebelumnya, pada awal 2007 kemudian pada pertengahan 2007. Sedangkan yang ketiga kali terjadi di Hotel Puspa Asri Jl Kenjeran, namun berhasil digagalkan polisi.

Kepada polisi, NF mengaku harga yang ditetapkan cukup bervariasi, mulai Rp 400.000 sampai Rp 600.000 dalam sekali transaksi. ”Menurut pengakuannya, 50 persen untuk dia dan 50 persennya lagi untuk korban,” tukas AKP Eusebia Torimtubun.

Menurut Sebi, panggilan Eusebia Torimtubun, selain sebagai ‘mami’ cewek-cewek SMP, NF juga sebagai pelaku penjaja cinta kepada lelaki. Kebanyakan, lelaki yang akan dikenalkan kepada gadis-gadis buruannya, adalah lelaki yang lebih dulu pernah kenal dan bercinta dengan dirinya. ”Kami melihat NF ini berasal dari keluarga yang kurang mampu, tapi selalu ingin tampil beda,” jelasnya.

Peristiwa yang nyaris merenggut keperawanan IN itu berawal saat tersangka NF dan korban bolos sekolah. Sebelumnya, korban dengan tersangka sudah saling kenal sekitar dua bulan. NF yang mengambil jurusan akuntansi di sekolahnya itu janjian bertemu IN di Tunjungan Plasa pukul 07.30 WIB, Kamis (6/3). Korban dijanjikan akan dikenalkan dengan teman NF di Kenjeran. Kepada korban, NF mengatakan bahwa lelaki itu suka memberi uang dan mengajak jalan-jalan.

Sekitar pukul 08.00 WIB, tersangka yang sudah kontak dengan seorang lelaki kemudian mengajak IN naik taksi ke Kenjeran. Sesampai di hotel kamar 301, bertemulah NF, IN, dan lelaki itu. Maka mulailah lelaki tersebut merayu, juga dibantu pendekatan oleh NF. ”Ini uang Rp 400.000 dari om ini sudah saya bawa untuk kamu. Nurut sajalah,” rayu NF kepada IN, seperti ditirukan penyidik.

IN yang tak menyangka dipertemukan dengan lelaki di dalam kamar hotel, tentu saja kaget dan mencoba menolak ajakan lelaki itu. Beruntung, sekitar pukul 09.30 WIB itu ada sejumlah polisi tengah menggerebek kemungkinan adanya praktik prostitusi di hotel. Ketika masuk ke kamar 301, polisi menemukan NF, IN, dan lelaki tadi. Merekapun digelandang ke mapolwiltabes untuk diperiksa.

Menurut Sebi, tersangka tidak ditahan dan hanya dikenakan wajib lapor. Pertimbangannya, tersangka masih di bawah umur dan masih menempuh pendidikan SMK. ”Apalagi sebentar lagi ujian,” katanya. (SURYA/mif)

GKR Hemas: Anak Harus Pintar Pilih Teman

Kompas.com Selasa, 23 Desember 2008 | 20:05 WIB

BANTUL, SELASA- Keharmonisan keluarga penting untuk mencegah perdagangan anak. Namun, jika keluarga kurang harmonis, tanggung jawab ada pada lingkungan. Anak juga diharapkan bisa bergaul dengan benar, serta mempunyai wawasan luas.

Hal itu disampaikan Gusti Kanjeng Ratu Hemas, istri Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Sultan Hamengku Buwono X, dalam Dialog Anak di Lapangan Kebonagung, Imogiri, Bantul , Selasa (23/12). Acara yang antara lain digagas Indonesia Against Child Trafficking dan Yayasan Sekretariat Anak Merdeka Mandiri (Samin) itu dihadiri lebih 200 anak.

Hemas prihatin bahwa kemiskinan adalah faktor utama penyebab perdagangan anak, misalnya anak-anak yang terpaksa dan dipaksa menjadi pekerja seks. Namun, kemiskinan bisa bukan sebagai alasan asalkan benteng keluarga sangat kuat, yakni keharmonisan.  

“Namun jangan langsung menuduh mengapa orang tua tega menjual anaknya. Sebab, walau mereka tak tega pun, lingkungan bisa saja yang memaksa,” ujarnya.

Artinya, apabila benteng keluarga dan lingkungan tembus, langkah ada di tangan anak. Oleh karena itu, akan lebih baik jika anak bisa memilih teman bergaul dan lingkungan yang positif dan berwawasan luas.

“Jika orang tua dan keluarga tidak harmonis, sebisa mungkin anak jangan terpengaruh. Karenanya upaya perlindungan anak harus terus disuarakan. Anak mesti tahu lembaga-lembaga atau siapa di daerahnya yang bisa membantu,” katanya.

Hemas juga menyoal pernikahan di bawah umur yang menurut dia harus ditentang. Dalam hal ini, ia menyorot kasus Syekh Puji. “Jangan sampai itu terjadi,” ucap dia.

Bagi anak, isu perdagangan anak membuat cemas. Sekolah sudah memberi arahan bagaimana kita waspada. Orang tua juga begitu. “Saya juga sudah mencari teman bergaul dan lingkungan yang positif. Tapi kecemasan ya tetap ada,” kata Anisa Safira (13), siswi SMPN 16 Yogyakarta.
PRA